Thursday, February 20, 2014

1st Indonesian Everest 1997 (Bag. 1)



Indonesian Everest Team 1997
Pada tanggal 26 April 1997, Indonesia menjadi negara di kawasan tropis pertama, sebagai negara pertama di Asia Tenggara, sebagai militer ke tiga di dunia (setelah Nepal dan India), menjadi tim pendaki pertama yang sukses pada musim pendakian ke Everest, 8.848 mdpl, musim 1997. Indonesia telah memotong tim Malaysia yang—punya ide jadi yang pertama sejak tahun 1986—sudah ’nongkrong’ beraklimatisasi di base camp Everest selama 6 bulan.
"Waktu itu kita mendengar bahwa Malaysia sudah mencanangkan akan mengibarkan bendera kebangsaan mereka pada tanggal 10 Mei 1997. Saya tidak rela bangsa Indonesia, sebagai bangsa 200 juta jiwa, harus kalah dengan bangsa lain di kawasan kita. Karena mencapai puncak tertinggi di dunia sudah menjadi salah satu tonggak ukuran prestasi suatu bangsa." tegas Prabowo dalam buku Di Puncak Himalaya Merah Putih Kukibarkan. Malaysia mengekori keberhasilan kita pada tanggal 23 Mei 1997, dan M. Magendran dan N. Mohanadas jadi orang Malaysia pertama di puncak Everest.


Tim Indonesian Everest 1997 terdiri dari anggota Kopassus, Wanadri, FPTI, Mapala UI dan Rakata atas prakarsa KomJend. Kopassus, MayJend TNI Prabowo Subianto. Ekspedisi dimulai pada tanggal 12 Maret 1997 dari Phakding, Nepal. Indonesia mengirimkan dua tim, Tim Selatan dan Tim Utara, dilatih dan dipandu oleh the Ghost of Everest, Anatoly Boukreev (Rusia), juga rekan-rekannya yang juga dari Rusia, Vladimir Baskirov, Evgenie Vinogradsky (dokter) dan ditambah pelatih dari Polandia, Richard Pawlosky, untuk memimpin tim utara (gagal 250 meter lagi menjelang puncak). Serta dipandu oleh Apa Serpha dan Dawa Tashi.
Kesuksesan Tim Selatan ekspedisi itu juga bisa dikatakan juga mampu mensejajarkan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa besar di dunia. Sedang menurut data tahun 1997, Everest memiliki 13 Rute pendakian, ada 165 tim, 2 pendakian solo dari 44 negara dan 686 orang—termasuk 16 pendaki wanita—yang berhasil menjejak di puncaknya. (Data tahun 2003 sudah ada 1.200 orang—pria dan wanita—dari 63 negara yang berhasil menjejaki puncak Everest).
Tapi di tulisan ini, saya tak akan menceritakan kembali prosesi pencapaian tim Indonesian Everest 1997, saat menggapai puncak Everest, karena di berbagai blog, sudah banyak yang menulis—apa lagi yang full copas—tentang keberhasilan tim kita ini. Meski tak apa, karena ini berarti masih banyak generasi kita mau mengenang sejarah, sekaligus menghargai jerih payah putera-putera bangsa dalam menggapai puncak tertinggi di bumi itu. Dalam tulisan ini saya akan lebih banyak cerita dari salah salah satu tokoh utama yang menyukseskan tim Indonesia Everest, yakni Anatoli Boukreev, sosok pelatih tim, sekaligus kepala guide tim Indonesia Everest.

Keraguan Sang Hantu Everest
Anatoli Nikolaevich Boukreev (16 Januari 1958 - 25 Desember 1997) adalah pendaki profesional Kazakhstan, Rusia. Ia telah mengantungi tujuh dari 14 puncak 8000-an tanpa bantuan tabung oksigen. Sepanjang tahun 1989 hingga 1997, ia punya catatan 18 kesuksesan mendaki puncak-puncak 8.000. Mendapat reputasi sebagai pendaki elit internasional, untuk pendakian K2 tahun 1993, dan mendaki Everest lewat rute North Ridge, serta makin terkenal setelah melakukan amazing rescue pada tragedi Everest 1996.
Pada tahun itu, ada beberapa pendaki dari tim lain yang meninggal sebelum dan sesudah 10 Mei. Karena banyaknya korban—12 orang—musim pendakian 1996 sering disebut sebagai “Everest 1996 Dissaster” atau Tragedi Everest. Peristiwa itu terus menghantui Boukreev yang kini harus bertanggungjawab penuh atas keselamatan tim Indonesia. Sementara saat tragedi itu terjadi, ia juga berperan sebagai pemandu di Tim Mountain Madness. Bahkan ia bertindak secara heroik menembus badai, dan berhasil menyelamatkan beberapa nyawa, tindakannya ini dikenal sebagai the Amazing Rescue! Beberapa rekan pendaki menjulukinya the Ghost of Everest. Lengkapnya baca: Sang Heroik: Anatoli Boukreev
Melihat predikat inilah Indonesia mencoba melobi Boukreev agar bersedia menjadi pelatih sekaligus pemandu utama tim Indonesia Everest 1997. “Orang-orang Indonesia percaya dengan kemampuan saya, selain saya memang lagi butuh uang untuk hidup. Saya harap, mereka mengakui saya sebagai trainer dan pemimpin dalam tim ini. Saya butuh ini, karena terus terang, saya sangat tersinggung dengan tulisan media-media Amerika tentang musibah (yang menewaskan Scott Fischer, Rob Hall, Yosuko Namba, dan sejumlah pendaki) tahun 1996 yang lalu.” Ungkap Boukreev di bukunya the Climb, yang ditulisnya bersama Gary Weston DeWalt. Mungkin ia juga tersinggung dengan buku Into Thin Air, karya Jon Krakauer, yang begitu menyudutkannya.
Jon secara jelas mempermasalahkan Boukreev yang tidak menggunakan tabung oksigennya, justru memberikan kepada rekannya, Neal Beidleman, dalam perjalanan summit attack. Akibat tindakan itu menyebabkan ia harus kembali ke camp terakhir di South Col, untuk istirahat dan menghangatkan badan lebih cepat dari kliennya. Selain itu juga, secara subjektif juga, Jon menyalahkan terjadinya hambatan pendaki di Hillary Step dan the Balcony, sehingga waktu pendakian banyak yang terbuang. Akibatnya, mayoritas pendaki, baik dari tim Scott  Fischer, Montain Madness Team, juga tim Rob Hall, Adventure Consultants' Team, baru bisa mencapai puncak everest, lewat pukul 3 sore. Kecuali Jon, Boukreev dan Andy Harris, berhasil mencapai puncak Everest pada pukul 13.12 waktu setempat.
Sahabat Boukreev yang berasal dari Italia, Simone Morro, membela dan mengkritik buku Into Thin Air, menuliskan catatan untuk Jon Krakauer: "Kau tak mengenal siapa Boukreev sebenarnya. Kau Amerika, dan dia Rusia. Kau pendatang baru di 8000-an, sementara dia di level terbaik sepanjang masa. Kau adalah pendaki gunung normal, dan dia seorang atlet hebat dan hantunya survival. Kau memiliki kenyamanan finansial, ia dikenal selalu kelaparan... Aku pikir kau seperti orang yang baru selesai membaca buku panduan medis, lalu mengklaim mampu mengajar bagaimana menjadi seorang dokter ahli bedah paling terampil di dunia... jika kau ingin benar-benar memberi penilaian tentang keputusannya tahun 1996, ingat ini: Tak ada klien ekspedisinya yang meninggal." Alangkah kerennya jika ada penerbit Indonesia, ada yang mem-publish terjemahan buku the Climb, agar pembaca Indonesia mendapat ceritanya dari dua arah.
Selain masih merasa sedih dengan pemberitaan tragedi Everest 1996, ternyata Boukreev juga sangat meragukan tim kita, ini memang masuk akal, apa lagi kita dikenal sebagai manusia-manusia tropis yang tiba-tiba berniat “mengadu jiwa” di ketinggian Everest. Tapi keyakinan Boukreev kembali muncul setelah beberapa pendaki berkelas Internasional menyemangatinya.
Tanpa sokongan dari teman-teman di Eropa, seperti Rolf Dujmovits dan Reinhold Messner, maka nama saya di mata masyarakat Amerika sangat buruk. Setelah saya bertemu dengan organisator tim Indonesia di Kathmandu, saya terbang ke Jakarta untuk berbicara dengan Prabowo, sebagai Kordinator Pendakian Nasional.” Ketika bertemu Mayjend. Prabowo, Boukreev mengatakan segala sesuatu tentang sebuah ekspedisi Everest. Baik tentang kemungkinan keberhasilan dan kegagalannya.
Mount Everest
Saya katakan terus terang, bahwa dengan keadaan seperti sekarang, keberhasilan tim Anda mencapai puncak Everest, sangat kecil. Mungkin hanya 30%, dan itu juga artinya hanya satu pendaki yang sampai ke puncak. Bahkan kemungkinan jatuh korban bisa mencapai 50%-50%. Jadi dengan kemampuan yang dimiliki pendaki Indonesia, rencana untuk mendaki Everest menurut saya tidak akseptabel!
Wah! Ternyata Boukreev memang benar-benar pesimis dengan kemampuan para pendaki kita. Bahkan ia mengusulkan agar tim Indonesia berlatih selama satu tahun penuh. Melakukan training mendaki gunung-gunung tinggi sekaligus beraklimitasi. Tapi usul Boukreev itu ditolak dengan tegas!
Tradisi saya dalam olahraga ini adalah mengutamakan pemiikiran yang sehat, bukan dengan cara “Rusian Roulette” Ungkapnya dengan nada kecewa. Russian Roulette adalah permainan mematikan menggunakan pistol putar dengan satu peluru.
Kematian seorang anggota ekspedisi, selalu jadi pukulan berat yang mampu menghancurkan semangat untuk mencapai puncak. Di gunung dengan ketinggian lebih dari 8.000 meter, tingkat keselamatan pendaki amatir akan menurun, tak peduli ia dalam kondisi stamina super sekali pun. Saya tak bisa menjamin keselamatan orang-orang yang minim atau sama sekali tidak berpengalaman di gunung-gunung tertinggi di dunia!” Tegas Boukreev lagi. Tapi orang-orang kita berusaha terus untuk melobi kesediaannya. Berulang kali pula Boukreev mengingatkannya.
Orang Indonesia bisa membeli dan mempelajari pengalaman saya. Nasehat saya, dan tugas saya sebagai pemimpin pendakian sekaligus tim penyelamat. Kalau ingin ke puncak Everest, mereka harus menanggung sendiri akibat dari kesombongan mereka nanti, karena mereka sangat tidak berpengalaman!” Tegas Boukreev lagi. Memang, relatif para pendaki sipil yang pernah mendaki gunung-gunung salju di Himalaya, Amerika dan Eropa. Sementara para pendaki Kopassus belum.
Jendral Prabowo meyakinkan saya, bahwa orang-orang mereka punya motivasi dan mampu. Mereka bersedia mempertaruhkan jiwa mereka, untuk mencapai tujuan ini. Sebuah jawaban jujur yang membuat saya syok!” Ungkap Boukreev jujur sekaligus salut. Untuk itu ia akan seletif memilih tim pendukung ekspedisi ini. Ia butuh pelatih yang sangat menguasai teknik dan berpengalaman di gunung-gunung tinggi. Mampu berperan sebagai penasehat, sekaligus sebagai tim penyelamat. Baik saat aklimatisasi maupun saat mendaki puncak.
Konsep tentang sebuah tim penyelamat sangat penting bagi saya, itu saya tekankan dengan jelas. Saya juga tak bersedia memberi garansi ke jendral Prabowo akan keberhasilan ekspedisi ini. Saya juga tak akan melanjutkan ekspedisi ini, walaupun kita sudah dekat puncak, jika terjadi situasi yang tidak menguntungkan bagi keselamatan tim.” Tegas Boukreev. Menurutnya, Jendral Prabowo juga dituntut mengerti tentang kondisi para pendaki ketika hendak ke puncak, juga keadaan cuaca yang bisa saja membatalkan rencana summit attack.
Semua saya yang menentukan. Dia harus mengerti, di ketinggian 8000 meter, bahkan tim penyelamat terbaik dunia pun tak akan bisa memberi garansi 100%.
Andai hal yang tak diinginkan terjadi, saya akan melakukan usaha penyelamatan dengan resiko keselamatan saya.
” Tegas Boukreev pada Jend. Prabowo. Itulah komitmen antara Boukreev dan Prabowo. Menurut Boukreev, masalah terbesar adalah masalah komunikasi. Bukan hanya perbedaan bahasa yang membuat frustasi, tapi juga tidak lengkapnya alat komunikasi. Waduh!

Para Pendamping Yang Hebat
Untuk mengurangi rasa keraguan dan pesimistisnya. Boukreev mengumpulkan beberapa sahabat dan rekan seperjalannya dalam membimbing tim Indonesia menggapai Everest. Boukreev menarik dua pendaki terkenal asal Rusia yakni Vladimir Bashkirov dan Dr. Evgeni Vinogradski. Bashkirov yang saat itu berusia 45 tahun, punya pengalaman 15 tahun dalam mengkoordinir ekspedisi di daerah yang sulit, dan mengenal rute Pamir dan Kaukasus. Berhasil mendaki 6 gunung diatas 8000 meter, termasuk dua antaranya adalah Gunung Everest. Suatu keuntungan dia mau berkerja sama dengan kami. Menurut Boukreev, sosok Bashkirov itu dia pendiam, diplomatis, supel bergaul dan fasih berbahasa inggris. Di Rusia ia terkenal sebagai kameraman-petualangan dan produser film. Dia yang menjadi film maker di ekspedisi ini.
Sementara “Sang Garuda Tua” Dr. Evgeni Vinogradski 50 tahun, punya prestasi 7 kali juara panjat tebing Rusia, dan 25 tahun berpengalaman sebagai pelatih pendaki gunung sekaligus dokter olah raga. Evgeni adalah teman baik Boukreev. Mereka pernah mendaki bareng saat menjejaki Kanchenjunga pada tahun 1989. Evgeni adalah telah mendaki lebih dari 20 gunung berketinggian 7000 metr, dan mengkoleksi 8 gunung berkentinggian lebih dari 8000 meter, termasuk 2 pendakian Everest, salah satunya sebagai pimpinan ekspedisi.
Ang Tshering, dari Asian Trekking di Kathmandu, bertugas mengurusi logistik dan mencari sherpa untuk ekspedisi. Mereka juga bersyukur, karena mendapatkan Sherpa Apa von Thami, 37 tahun, sudah 7 kali mencapai puncak Everest sebagai Sirdar—pemimpin Sherpa pendaki—dan First Climber Sherpa (Sherpa yang ikut ke puncak) juga bergabung dengan Boukreev. Para sherpa berada dibawah komando Ang Tshering dan staf dari Indonesia.

Keraguan Terkikis
Tim Indonesian Everest 1997, berangkat menuju Nepal pada akhir Desember 1996. Setelah beberapa hari beristirahat di Kathmandu, mereka langsung mengikuti latihan yang sekaligus merupakan seleksi tim yang akan diikutsertakan dalam pendakian Everest pada bulan Aprill 1997. Seleksi I dilakukan di Paldor Peak, 5. 928 mdpl. Seleksi II di Island Peak, 6.189 mdpl. Para pendaki itu belajar mengenal gunung es dan mempelajari teknik mendakinya. Mereka orang-orang tropis yang sangat jarang, bahkan ada yang belum pernah ketemu salju, tampak gembira saat melihat hamparan es dan menginjak butir-butir salju. Sangat tak berlebihan jika banyak pendaki asing yang mencibir, sambil melontarkan pertanyaan sinis; Benarkah orang-orang seperti ini akan mendaki Everest?
Bashkirov dan Evgeni memimpin Training ke Paldor Peak, Ganesh Himal, yang dimulai pada tgl 15 Desember 1996. Seluruh pendaki berjumlah 34 orang. Separuh dari mereka tak punya pengalaman pendakian gunung tinggi. Berusaha mencapai Puncak Paldor, 5.900 meter. Ternyata 17 orang berhasil sampai ke puncak, dan bertahan selama 21 hari dan mencoba beraklimatisasi dengan cuaca musim dingin.
Pada Januari dan Februari 1997, ke-34 pendaki mulai melakukan training yang ke dua, mendaki Island Peak, 6.189 meter. Ada 16 orang pendaki yang berhasil mencapai puncak. Mereka berada di sana selama 20 hari. Dibawah temperatur minus 40 derajat Celcius, serta terjangan badai musim dingin yang ganas. Selama tiga hari tiga malam berada di ketinggian 6.000 meter, dengan keadaan cuaca yang sangat berat mereka harus mendaki dan turun dengan rentang ketinggian 1.000 meter dalam waktu kurang dari lima jam.
Ternyata hasil latihan ini, perlahan-lahan mulai mengikis keraguan Boukreev terhadap tim Indonesia, “Training ini sangat optimal. Saya sendiri menggelengkan kepala: Paldor, Island Peak, Everest. Sebagai training, program ini bukan untuk sembarangan orang!” ungkap Boukreev kagum.
Di penyaringan terakhir, hanya ada 10 anggota Kopasus dan 6 orang sipil pendaki. Tim Boukreev sempat mengusulkan satu tim rute pendakian melalui Jalur Selatan, Nepal, namun ditolak. Tim Indonesia ingin membentuk tim ke dua yang akan menembusnya dari jalur Utara, Tibet. Tim selatan terdiri dari 10 pendaki, 2 pendukung, 3 pelatih dan 20 sherpa. Sedangkan tim utara terdiri dari 6 pendaki, 2 pendukung, 1 pelatih, yakni Rischard Pavlowski, 44 tahun, asal Polandia, dan 15 sherpa. Dengan dua tim dari dua jalur yang berbeda, peluang keberhasilan Indonesia menjadi lebih terbuka.
Tapi mulai ada masalah seperti yang diungkap Boukreev dalam bukunya itu, “… ada masalah struktur organisasi kami. Sherpa tidak berada dibawah komando saya. Tugas mereka hanya menolong di pekerjaan tertentu, seperti memasang tali, membangun camp dan transport logistik. Padahal yang harus dikerjakan sebenarnya banyak, karena kami yang pertama di rute ini, tanpa ada pertolongan dari sherpa karena secara structural, sherpa harus tinggal di belakang seusai melakukan tugas mereka. Pertolongan sherpa tidak bisa mengimbangi team pendaki yang selalu bergerak menuju ke tempat yang lebih tinggi. Sirdar Apa juga sedih melihat orang-orangnya yang kurang kemampuan dan pengalaman, yang mengakibatkan pendakian ini tersendat.”
Pada tgl 21 April, tim kembali ke base camp, untuk melakukan seremoni dan berdoa. Mirip para sherpa yang saban pagi memberi kurban untuk gunung. “Orang-orang Indonesia selalu mengingat Tuhan. Saya sangat respek pada kepercayaan mereka. Wajah-wajah pendaki dan seluruh anggota tim nampak serius khusyuk selama acara seremoni.” Ungkap Boukreev serius. Di hari-hari terakhir itu, para anggota segera bersiap menjelang summit day. Selama menunggu hari pendakian mereka semua terlihat tegang. Bersambung ke 1st Indonesian Everest 1997 (Bag. 2)
foto 1 (kopassus) foto 2 (cuppakopi*com) foto 3 (wikipedia*org)

2 comments: