Saturday, February 15, 2014

Demam Gondrong


“Waktu tak akan bisa kita paksakan kehadirannya
Karena ia datang sendiri. Jadi hanya bisa dinanti, 
dijalani, dilewati, atau dikenangi.” [Ganezh/1999]

Tahun ini rambut gondrong lagi nge-trend. Hampir di semua tempat ditemui pemuda berambut gondrong yang lagi asik nongkrong. Ada yang lurus kayak sih Bucek Deep, kayak AXL nya GNR, atau tokoh yang identik dengan gondrong, meski lagi botak, yakni Gugun Gondrong :P Ternyata demam itu juga menjalari Ganes and the gank. Saat ini ia masih “gotang” alias gondrong tanggung. Maklum masih anak sekolahan. Tapi saat liburan panjang nanti ia berniat menggondrongkan rambutnya. Hingga menjelang masuk sekolah.

Sore itu, di kamar, Ganes lagi asyik menyisir-nyisir rambutnya. Menoleh ke kiri kanan sambil tersenyum. Rambutnya yang lurus itu sudah menyentuh ujung telinga dan kerah bajunya. Selagi asyik cengar-cengir sendiri di depan kaca, tiba-tiba Ibu memanggilnya.
“Nes, Ganes!”
“Ya, Bu?!” Ganes membuka pintu kamarnya. Ibu telah berdiri di hadapannya.
“Besok sepulang sekolah, kamu langsung ke loket PLN. Bayar rekening listrik, ya!”
“Oke, Bu. Tapi ada lebihannya kan?” Tanya Ganes nyengir. Ibu cuma mengendalikan mata mendengar jawaban anaknya itu.
“Iya, tapi buat gunting rambut kamu itu!” kata Ibu serius. Mendengar itu Ganes terdiam. Lalu menggangguk.
“Tapi kalo inget, ya—aduh!” Sebelum kalimat Ganes selesai, ia terpekik karena telinganya keburu dijewer Ibu.
Hari ini hari adalah hari terakhir ulangan umum. Para siswa-siswi boleh bernafas lega, setelah meninggalkan ruangan kelas, yang sudah satu minggu dipakai buat menggeber soal-soal yang memusingkan kepala itu. Tinggal debar-debar nanti, saat menunggu pembagian rapor kenaikan kelas. Selama kegiatan ulangan berlangsung, para guru kurang memperhatikan rambut-rambut para siswanya. Siswa-siswa SMUN 2000 merasa senang, karena Pak Dowan, guru olah raga itu tampak cuek dengan perkembangan rambut siswa-siswanya. Pernah dulu, kakak-kakak kelas mereka, mendemo Pak Dowan tentang masalah rambut. Mereka meneriakkan beberapa yel-yel yang berbunyi: “Sekolah tidak ada hubungannya dengan rambut. Yang diasah dan diadu di sekolah itu otak bukan rambut. Biarkan rambut kami tumbuh subur. Ingat pepatah, rambut adalah mahkota anda! Kami menuntut keadilan, kenapa para siswi-siswi boleh berambut pendek seperti cowok, tapi siswa tak boleh berambut panjang seperti cewek!” Namun baru beberapa tuntutan yang mereka bacakan, mereka keburu lari terbirit-birit. Para guru yang di komandoi Pak Dowan mengejar sambil membawa gunting bonsai! Alhasil, demo itu bubar tanpa hasil :D
Siang itu, Ganes dan teman-temannya lagi asyik ngobrol di bawah pohon akasia di samping kelas mereka. Mengobrol tentang rencana pendakian mereka ke Gunung Semeru.
“Siapa aja yang mau ke Semeru, Bon?” tanya Adhie pada Abon yang lagi asyik memandangi murid-murid cewek lagi asyik main bola basket.
“Bon!” panggil Togar agak keras . Abon kaget.
“Aa-apa?” tanyanya gelagapan.
“Dasar buaya garing, lo! Jelalatan melulu!” maki Beben.
“Siapa tau ada yang jatuh, Ben! Heheheheh” Abon cengengesan.
“Siapa yang mau ikut ke Semeru nanti?” Adhie mengulangi pernyataannya.
“Oo—itu. Kabarnya si Donna, Ruri, Jaya, Rido. Entah kalo sudah nambah lagi?!” Jawab Abon serius. Selagi asyik mengobrol, tiba-tiba semua menoleh kearah kelas II.1. Belum sempat mereka bertanya, sudah terdengar teriakan histeris murid-murid cowok. Raziaaa!! Razia rambuuuuut! Mereka yang merasa punya rambut gondrong kalang kabut berlarian menyelamatkan diri. Termasuk si Gokil, Adhie, dan Beben.
“Cabut, guys sebelum ketangkep!” kata Ganes mengkomandoi teman-temannya. Abon dan Togar yang berambut pendek tertawa terpingkal-pingkal melihat mereka. Benar saja belum lama mereka berlalu. Pak Dowan dan Pak Toni menghampiri mereka.
“Lari ke mana mereka tadi? Tadi saya lihat mereka ada disini?” tanya Pak Dowan penuh wibawa. Pak Toni, guru kesenian itu menatap tajam ke arah Abon dan Togar.
“Anu, Pak. Mereka memang tadi memang di sini, tapi tiba-tiba mereka bilang mau ke belakang,” jawab Togar gugup.
“Betul, Pak. Katanya Ganes sakit perut, Adhie mau pipis, terus—”
“Ah, Sudah! Kalian sama saja!’’ potong Pak Dowan dengan mimik wajah tak percaya sedikit pun. Mereka berlalu mencari mangsa yang lain. Togar dan Abon hanya tertawa tertahan. Kedua guru itu mendengarnya.
“Kenapa kalian?!’’ Pak Toni tiba-tiba membentak. Keduanya langsung mengkeret.
“Tidak apa-apa, Pak. Kami cuma bersyukur punya rambut pendek!’’ jawab Abon sekenanya. Guru-guru itu cuma mendengus kesal dan pergi berlalu.
“Gila, Gar. Pake daftar segala!’’ ucap Abon setelah guru-guru itu berlalu.
“Betul, Bon. Bapak-bapak itu pakai DPOG!’’
“DPOG? Apaan?’’
“Daftar Pencarian Orang Gondrong?’’ jawab Togar tertawa. Abon ikut tertawa. Tak lama ada seorang gadis cantik mendekati mereka.
“Gar!’’ Togar yang masih asyik tertawa menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ternyata si Katrin.
“Gar, elo liat Ganes nggak?’’ tanyanya mendekat.
“Gokil kabur, Trin”
“Kabur? Gara-gara razia rambut?” tanyanya lagi.
“Betul!” timpal Abon juga.
“Tuh kan, pada hal udah gue bilangin potong rambut. Dasar Gokil, susah diatur!’’ jawab Katrin keliatan kesal.
“Diatur apa diperhatiin, Trin?” tanya Abon menggoda. Wajah gadis itu bersemu merah. Lalu meringis tersenyum.
“Dua-duanya, Bon!” tambah Togar pula. Katrin membalikkan badan hendak berlalu.
“Eh! Mau kemana, Non?”
“Kalian sih, ngeledek melulu!’’ Katrin bergegas meninggalkan mereka. Abon dan Togar tertawa cengengesan.

Sore itu Ganes lagi asyik nonton film Sailormoon. Film anime Jepang yang selalu menghukum musuh-musuhnya dengan kekuatan cinta :P Teeeet! Telepon  yang berada diruang tengah berbunyi. Ganes melangkah terburu-buru.
“Holoo? Eeh, Ada apa, Trin?”
“Kamu tadi kabur kemana, Nes?” Terdengar suara Katrin dari seberang telepon.
“Pulang, kenapa?”
“Katannya mau nemenin ke perpuswil?!” (perputakaan wilayah)
“Waduh, iya, sori. Gue lupa! Tadi ada razia rambut, sih!” jawab Ganes sambil menepuk jidatnya sendiri.
“Tuh, kan. Salah kamu sendiri. Udah Katrin nganjurin buat potong rambut, jadinya gitu!” Ganes meringis mendengarnya.
“Gue kan pengen gondrong. Liburan ini aja. Kalo mau masuk nanti, baru gue potong.”
“Terserah kamu, deh. Yang penting Katrin udah omongin!”
“Iya, makasih, ya.” jawab Ganes tertawa.
“Dasar! Eh, kamu mau mendaki lagi ya?”
“Belum tau, Trin. Belon ada rencana, sih!”
“Lho? Kata anak-anak, kalian mau ke Semeru?”
“Iya, sebagain dari mereka mau ke sana. Tapi kalo gue belum tau.”
“Oo, gitu. Kalo Katrin mau liburan ke tempat Oma, di Lampung. Ngg—itu aja, ya. Besok aja kita ke perpusnya, gitu?”
“Ya—ya! Boleh, eh, makasih ya perhatiannya!”
“Gokil, jelek!” Trep! Bunyi telepon ditutup. Ganes nyengir mendengarnya.
Pada waktu pembagian rapor, beberapa siswa masih datang ke sekolah, meski yang mengambil harus orang tua atau walinya. Ada jeritan bahagia, ada pula pekikan histeris bagi yang tinggal kelas. Ganes pun harus bangga di posisi rangking sebelas. Rangking-nya turun. Dari sepuluh ke sebelas :P Ibu sempet ngomel dikit tadi sebelum pulang ke rumah. Dia lagi asyik memelototi angka-angka di buku rapotnya. Gila, nilainya tetap, nggak naik atau turun. Stabil, cuma angkanya aja yang pindah-pindah!
“Nes!” Uffs! Ganes teronjak kaget.
“Gimana rapotnya?” tanya Adhie dan Beben mengejutkan. Dengan wajah lesu Ganes menjawab.
“Nilai statis. Kayaknya gue bakal diceramahin Bapak, deh—lho?! Katanya mau gondrongin rambut? Kok, malah pada plontos gitu?” Ganes kaget melihat Adhie dan Beben sudah memotong rambut hingga setengah botak begitu.
“Elo beruntung Nes, kemaren pulang duluan.”
“Iya, kami ketangkep ama Pak Dowan. Habis deh, dibabat!” Tambah Beben menimpali perkataan Adhie. Wajahnya meyiratkan kekecewaan.
“Salah kalian sendiri, diajak pulang nggak mau jadinya gitu,” ucap Ganes merasa bangga sambil menyibakkan rambutnya.
“Ganes, kemari!” Waaa! Nyaris Ganes terlonjak kaget. Pak Dowan tiba-tiba memanggilnya, si Gokil langsung pucat pasi.
“Ada... a-apa, Pak?” tanyanya gugup.
“Ikut Bapak ke kantor!” sahut Pak Dowan dingin. Dengan langkah gontai Ganes mengikutinya. Teman-temannya tersenyum, sambil melintangkan jari telunjuk ke leher. Khek—mati! Tambah mereka sambil memeletkan lidah. Dengan wajah lesu Ganes mengiringi langkah-langkah Pak Dowan. Mati gue! Keluhnya dalam hati. Sampai di kantor.
“Kenapa wajah kamu begitu? Kamu tak mau bantu Bapak?” tanya pak Dowan melihat wajah Ganes yang kuyu. Membantu? Berarti bukan urusan rambut. Yess! Wajah Ganes langsung berubah cerah seketika.
“Bersedia! Bersedia banget, Pak!” jawabnya dengan mata berbinar. Pak Dowan bingung melihat perubahan wajah Ganes yang seketika itu.
“Kamu sakit?” tanya Pak Dowan keheranan.
“Nggak, Pak, Sehat banget, Pak! Apa yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Ganes semangat. Pak Dowan menatapnya sebentar. Lalu minta Ganes untuk mengetikkan sebuah surat dinas, karena kebetulan sekretaris TU-nya tak masuk karena sakit.  Tak sampai lima belas menit, Ganes sudah menyelesaikan tugasnya.
“Makasih, eh! Tapi nanti rambut kamu itu dipotong!” Ucap Pak Dowan sambil menatap rambut Ganes dengan penuh nafsu :P Ganes mengangguk.
“Iya, Pak,” jawab Ganes lega. Cihuuy! Ganes bersorak dalam hati. Ke luar kantor dengan wajah lega. Ia langsung kembali menemui teman-temannya. Dengan hati riang melenggang menemui Adhie dan Beben.
“Lho, kok, masih utuh?” Adhie dan Beben heran.
“Apanya?” Ganes berlagak bloon.
“Rambut elo?”
“Oh iya, dong!”
“Kan tadi dipanggil Pak Dowan?”
“Bener, Ben. Pak Dowan cuma mau bilang. Katanya kalo kamu mau manjangin rambut, harus dirawat dengan baik. Gitu katanya!” Ganes ngibul sambil tertawa nyengir.
“Ah! Bohong!” Tepis Adhie dan Beben bersamaan sambil menatap Ganes dengan pandangan tak percaya secuil pun.
Akhirnya, liburan kali ini Ganes benar-benar berambut gondrong. Bapak dan Ibu nyaris bosan menegurnya. Kalau ditegur Ganes selalu menjawab dengan wajah memelas. “Please, Pak, Bu, kan liburan. Cuma liburan ini aja. Nanti kalo udah mau masuk, Ganes potong, janji!” Dengan mimik wajahnya nelongso. Rambut Ganes memang lumayan subur, dirawatnya dengan baik. Sampai rela beli sampo meral sendiri. Pada hal biasanya, selalu nebengin sampo Ibu atau sampo Anis, adiknya.
Siang itu mereka berkumpul diruang keluarga. Ibu lagi asyik menyulam, Anis lagi membaca majala remaja dan Ganes lagi asyik nonton TV. Hari itu tiga hari terakhir sebelum liburan panjang usai.
“Bu, semalem Ganes mimpi potong rambut. Kata nenek bakal ketiban sial. Emang bener ya, Bu?” Mendengar itu Ibu cuma senyum.
“Menurut orang-orang dulu begitu. Namanya juga kepercayaan lama, kita nggak boleh langsung percaya. Belum ada buktinyanya juga.”
“Jadi boleh dipercaya, boleh nggak?” tanya Ganes meyakinkan. Ibu menggeleng.
“Cukup hormati ajalah, dari pada orang-orang tua dulu tersinggung.”
“Eh, tapi emang bener, Bu. Kata nenek, kalo nggak ketiban sial ya, bakal dapet malu!” sela Anis sambil memandang ke arah Ibu dan Ganes.
“Elo harus potong rambut, Nes! Kalo nggak mau malu atau ketiban sial!” tambahnya lagi.
“Ah, sok tahu! Emang elo setuju banget kalo rambut gue dipotong!” tepis Ganes dongkol. Karena saat ini ia alergi banget mendengar kata-kata: potong rambut.
“Yey, kok, sewot! Kita cuma ngasih tahu. Yang bakal ngalamin juga bukan gue, wek!” Anis mencibirnya.
“Eh, sudah! Masalah gitu aja kok, ribut!” cegah Ibu menengahi. Ganes diam saja. Tak lama telepon berbunyi. Ganes mengangkatnya. Telepon dari Katrin. Mengabarkan jika ia baru pulang dari lampung dan minta jemput di loket Jalan Atmo. Sudah hampir dua minggu Katrin liburan di lampung. Setelah bicara pada Ibu, Ganes pun berangakat hendak menjemput Katrin. Diiringi ledekan Anis.
“Yeye, jemput pacar! Yeye, jemput pacar!” Ganes cuma mendelik ke arah adiknya itu. Ibu hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
Tidak sampai satu jam, Ganes sudah sampai ke loket yang disebut Katrin. Berada di kawasan Jalan Kol. Atmo. Kenapa Katrin nelpon gue, ya? Kenapa nggak langsung nelpon Mang Jon, sopirnya itu? Iya, kalo gue punya mobil, orang naik angkot gini. Nanti pasti ribet cari-cari taksi lagi? Gumam Ganes dalam hati. Dia berjalan sambil menebar pandangan mencari-cari Katrin. Rambutnya yang gondrong itu berkibar-kibar ditiup angin. Sesekali dengan bangga dia menyibakkannya. Ganes menyeruak di antara keramaian orang. Di antara para penumpang yang turun dari bis yang baru tiba.
Nah, itu si Katrin. Wah! Emang banyak juga bawaannya. Dua koper gede beroda dan satu kardus paket yang kelihatannya berat. Katrin menoleh ke arahnya, Ganes tersenyum melambaikan tangan. Tapi Gadis itu menatap sebentar dengan tanpa ekspresi, lalu malah membuang muka ke arah lain. Lho? Kok, gitu? Apa dia pangling atau emang nggak tahu? Ganes bertanya dalam hati. Tanpa pikir panjang, ia berlari kecil menuju Katrin yang masih berdiri menunggu. Tiba-tiba terdengar kegaduhan serta disusul suara teriakan....
“Itu jambretnya!” Seseorang berteriak menunjuk ke arah Ganes. Beberapa orang menoleh ke arahnya. Ganes terkejut belum tahu apa maksud orang-orang memburu ke arahnya.
“Apa-apaan ini, gue buk—.” Plak! Buk! Dug! Belum sempat ia berkata-kata, beberapa orang telah mengerubutinnya. Menghujaninya dengan pukulan dan tendangan. Ganes mencoba melawan sambil berusaha menjelaskan, tapi mereka makin beringas melihat Ganes berusaha melawan. Akhirnya, Ganes jadi bulan-bulanan dari massa yang kalap.
“Hentikan!!” Tiba-tiba terdengar bentakan keras dari orang yang berbadan tinggi besar itu. Berusaha membubarkan orang-orang kalap itu, tapi teriakan orang itu tidak digubris sama sekali. Dor! Dor! Terdengar suara tembakan di udara. Mereka kalang kabut mendengarnya.
“Saya dari Kepolisian! Kita tak boleh main hakim sendiri. Biar dia saya tangani!” katanya penuh wibawa. Masyarakat berhenti dengan wajah tak puas sambil bergumam tak jelas.
“Gu—gue bukan jambret, Pak. Guu—.” Terbata Ganes berusaha menjelaskan. Bibirnya berdarah dan wajahnya pun tampak lebam. Menyedihkan.
“Diam kamu!” Bentak Polisi itu dengan kasar. Tiba-tiba seorang gadis menyeruak ke dalam kerumunan itu. Dia langsung memeluk tubuh Ganes yang lunglai.
“Ganes! Yaa Tuhan! Kenapa jadi gini? Pak, dia saudara saya! Dia bukan jambret, Pak!” Katrin mencoba membelanya.
“Maafin, Dik. Dia harus saya bawa!” jawab Polisi itu tegas. Katrin menjadi kesal karena penjelasannya tidak didengar sama sekali. Terjadi perdebatan sengit dan beberapa orang mulai kelihatan bingung. Masa ada gadis secantik Katrin punya saudara seorang penjambret?! Lalu tak jauh dari situ terjadi keributan lagi. Dua orang penarik becak sedang memukuli seorang pemuda gondrong. Ya, memang rambut dan postur tubuhnya mirip banget dengan Ganes.
“Pak! Anak itu bukan jambretnya, tapi ini orangnya!” Kata mereka sambil menyeret pemuda gondrong yang berteriak-teriak kesakitan. Mereka membawanya mendekat.
“Benar, Pak! Anak itu tak bersalah kami melihat semua kejadiannya!” Kata temannya menambahkan. Polisi itu jadi bingung. Orang-orang yang berada di situ hanya bisa melongo bloon tidak mengerti. Jadi mereka telah salah orang, dan Gokil yang jadi korbannya. Perlahan Katrin membantu Ganes berdiri.
“Kalian semua keterlaluan! Kalian salah orang tahu!” Maki Katrin berang ke arah orang-orang yang telah mengeroyok Ganes. Mereka terdiam membisu. Polisi itu langsung menangkap orang yang dipegangi oleh kedua penarik becak itu.
“Benar, Pak. Orang yang berbaju hitam itu bukan yang menjambret saya tadi!” kata Gadis jadi korban penjambretan itu. Ganas menatapnya tajam. Dia merasa kesal. Seharunya dia jadi pembela Ganes sewaktu pengeroyokan itu terjadi. Lalu Ganes menatap ke arah orang-orang yang mengeroyoknya, mereka balas menatap dengan pandangan mata bersalah. Tiba-tiba entah kerasukan jin dari mana—Ganes menerjang ke arah si penjambret gondrong. Dia melayangkan tinjunya dengan keras. Kejadiannya sangat cepat dan tidak disangka sama sekali. Katrin dan beberapa wanita yang ada di situ menjerit-jerit. Ganes kalap!
“Gara-gara elo, gue begini! Hih!” pekiknya lantang sambil menerjang perut si penjambret itu. Orang itu jatuh terjengkang. Katrin  dan Pak Polisi itu sibuk menenangkan Ganes yang kalap. Penjambret gondrong itu jatuh tak bergerak lagi. Pingsan!
“Cukup, cukup, Dik! Kami semua mintak maaf! Kami mengerti perasan kamu,” kata polisi itu menenangkan. Katrin mulai menagis. Dada Ganes bergemuruh. Emosinya meluap-luap.
“Nes, inget—jangan nembahin masalah lagi!” cegah Katrin lirih. Ganes terduduk berusaha mengatur napas. Katrin mengajaknya berlalu dari situ. Ganes mendekati kedua tukang beca itu.
“Makasih, Bang. Kalian berdua udah nyelamatin gue dari kanibal-kanibal ini!” ucapnya tulus. Mereka berdua mengangguk dan merasa kasihan melihat keadaannya. Ganes  berjalan lunglai. Sekujur tubuhnya terasa nyeri dan ngilu. Dia duduk di bangku loket bus. Katrin memberinya minuman kaleng, dia bertanya cemas.
“Lo nggak apa-apa kan, Nes?” Ganes mengangguk nyengir. Senyuman khasnya masih nongol juga. Lalu, gluk! Gluk! Dia meneguk habis minuman kaleng itu. Dasar Gokil, dalam keadaan begitu juga masih bisa senyum-senyum nyengir. Kata katrin dalam hati. Orang-orang yang melihat adegan itu juga pasti bergumam yang sama dengan Katrin.
“Lo, nggak marah kan, Nes? Gara-gara jemput gue. Ah, ini semua karena mobil Katrin masih dibawa Mang Jon ke bengkel!” katanya dengan wajah kesal.
“Heh! Nggak usah ngomel gitu, gue minta sekaleng lagi, ya?” potong Ganes. Katrin memberinya sekaleng minuman kagi. Gluk! Gluk! Dasar Gokil! Beruntung tak lama kemudian Mang Jon muncul membawakan mobil Katrin. Kemunculannya disambut oleh gerutuhan Katrin. Mang Jon hanya bisa diam dirutuki oleh anak majikannya itu. Mobil itu langsung tancap gas menuju rumah Katrin.
Ganes diajak masuk dan duduk di ruang tamu yang luas itu. Ruang tamu yang cukup mewah dengan barang-barang antiknya. Dengan wajah lunglai Ganes duduk di sofa. Katrin muncul dengan membawa minuman dingin, air hangat dan obat-obatan luka. Mereka duduk berhadapan. Dengan hati-hati Katrin membersihkan wajah Ganes dengan air hangat.
“Aduh!” pekik Ganes sambil meringis kesakitan. Luka dibibinya terasa pedih sewaktu disentuh handuk basah itu.
“Elo, sih! Coba dari kemarin-kemarin rambutnya dipotong, nggak gondrong gini, pasri Katrin nggak akan pangling gitu. Dan lo juga pasti nggak bakal mirip mirip ama penjambret sialan itu. Pasti kejadian ini nggak akan terjadi.” kata Katrin pelan. Dia terliahat sibuk membersihkan wajah Ganes yang lebam dengan sangat hati-hati.
“Mungkin ini udah nasib gue, Trin. Itung-itung buat—aduh!” Ganes menjerit ketika memar di wajah itu ketekan tangan Katrin.
“Aduh, maaf! Maaf! Itung-itung buat apaan?” tanyanya penasaran.
“Buat pengalaman. Hehehe—wadaaaw!!” Ganes menjerit sambil menarik mukanya ke belakang. Ia meringis kesakitan. Tanpa di sengaja Katrin menekan luka memar di wajah Ganes. Katrin tertawa seraya minta maaf. Setelah semuanya selesai dan Ganes mulai merasa agak baik.
“Trin, anterin gue,ya?”
“Kemana? Pulang? Ya, iyalah, Nes.” Jawab Katrin sambil mengangguk. Tapi Ganes menggeleng.
“Lho? Kemana?”
“Ke tempat gunting rambut!” Jawab Ganes serius. Mata indah Katrin membulat.
“Kamu mau potong rambut?” tanyanya belum percaya.
“Iya, mukin belum saatnya gue gondrongin. Entar aja kalo udah lulus dan kuliah.” katanya  serius. Katrin tersenyum manis sekali. Menyetujui kata-kata Ganes. Ganes mengajak Katrin mencari tempat gunting rambut. Tapi Katrin malah mengajaknya ke sebuah salon. Ganes menolak, namun Katrin memaksanya, dengan alasan guntingan di sana bagus dan rapi.
“Bukannya apa-apa, Trin. Gue kikuk ama tukang gutingnya!”
“Ah, nggak apa-apa. Itu langganan gue ama Mami. Guntingan mereka Bagus-bagus kok!” jawab Katrin serius. Dengan sangat terpaksa Ganes tak mampu menolaknya. Mereka memasuki sebuah salon yang cukup bagus. Bertha Salon and Spa. Oh my, God. Ganes merasa seluruh tubuhnya panas dingin. Benar saja, baru saja mereka masuk, seorang shemale mereka menyambut dengan ramah.
“Silahkan, masuk. Mbak Katrin. Mau diapain, dikeramas, sauna, atau mau dipotong?” Katrin tersenyum melihat Ganes mengkeret. Dia garang di hutan tapi lemah tak berdaya di salon dan spa :P
“Dia yang mau potong rambut, Mbak!” kata Katrin memberitahukan. Shemale itu menatap ke arah Ganes.
“Oh, Mas ini, toh! Lho, mukanya kenapa? Habis diboyokin, ya? Eh, dibonyokin, sorry ya, maaf!” Katanya tersenyum sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Katrin tersenyum mengangguk. Wajah Ganes tampak pucat dan masam dengan dahinya berkerut.
 “Aduh! Dirapin aja, ya? Kan sayang, udah keren gini. Udah kelihatan handsome gitu!” katanya lembut sambil mencubit genit. Ganes mengerutkan alisnya. Mulai terlihat mulai risih.
“Nah kan, Trin...” Bisiknya Ganes cemas.
“Jangan cuman dirapiin. Eeeee...” Sepertinya Katrin sedang mencoba mengingat nama shemale itu.
“Ah, Mbak, selalu lupa nama eike, Mesye! Mbak Mesye!” potongnya saat melihat Katrin bingung memanggilnya.
“Oh iya, Mbak Mesye. Rambut dia harus dipotong. Sebentar...” Gadis itu mengambil katalog gaya rambut. Membalik-baliknya sebentar. Lalu wajah cantik itu tersenyum.
“Kaya ini aja, lo mau kan? Keren!” Katrin menunjuk model rambut seorang cowok keren. Ganes melihatnya sebentar.
“Keren, kata lo, cocok nggak ama muke gue. Entar malah maksain cocok!” Tepis Ganes masih ragu.
“Eh, Mbak Katrin bener, lo Mas. Ini cocok banget, deh. Mas Boy, ini maching and bikin macho! Iya kan, Mbak? Oke, sekarang bisa kita mulai?” Mesye memotong perkataan Ganes. Katrin mengangguk dijawab tatapan pasrah Ganes :p
Tak lama Mesye mulai mengguting rambut Ganes. Terlihat cekatan sekali. Ganes memperhatikan helai demi helai rambutnya melayang jatuh. Bahkan tatapannya men-slow motion gerakan rambut itu jatuh. Diam-diam dia membantin dalam hati. Rambut gue sayang, rambut gue yang malang! Eh, apa betul ramalan mimpi itu? Terbayang dimatanya tentang komentar teman-temannya nanti begitu tahu rambutnya dipotong. Terbayang senyum Anis yang bakal mengejeknya. Pasti ia merasa menang. Dan berbagai pertanyaan dari Bapak dan Ibu, setelah melihat mukanya yang rada bonyok begitu.
“Mas Boy ini pacarnya ya, Mbak? Asyik ya, orangnya. Tetep kelihatan manis walau lagi bonyok begitu. Pendiem. Nurut lagi!” Ucap Mesye dengan tulus, sewaktu mengucapkan kata-kata tadi. Mendengar itu, Ganes cuma bisa melirik dongkol. Dongkoool banget! Ingin rasanya dia berteriak, namun bibinya terasa nyeri. Katrin tertawa kecil sambil menutup mulut melihat wajah orang yang disukainya itu mengkerut-kerut bak jeruk purut. Menahan nyeri bercampur kesal. [end] Ganezh/12/04/1999

1 comment: