Monday, March 10, 2014

the Greatest Climber: Reinhold Messner

Reinhold Messner is the Greatest Climber on the Earth: Prestasi petualangan yang tak tertandingi.
Reinhold Messner lahir di desa Villnos, di kawasan lembah Tyrol, Italia Selatan, pada 17 September 1944. Ia anak ke dua dari delapan bersaudara. Ayahnya, Joseph Messner, seorang kepala sekolah. Seperti kehidupan petani lain di desa yang di pagari Pegunungan Dolomite ini, mereka hidup sederhana. Di waktu senggang, apalagi liburan panjang, Joseph sering mengajak keluarganya mendaki gunung-gunung di sekitar desanya.
Pada usia lima tahun Reinhold Messner sudah diajak ayahnya mendaki Saas Rigais di Geisler Alps. Berbeda dengan gunung-gunung sebelumnya, gunung itu mengharuskan mereka memanjat tebing dulu baru menggapai puncaknya. Tak dapat dibayangkan bagaimana tangan-tangan mungil Reinhold yang mencengkram tali atau saat berayun-ayun di tebing yang tingginya ratusan meter. Ia tidak merasa takut malah terlihat kegirangan. Gilanya lagi, adik Reinhold, Gunther ikut juga dalam pendakian itu. Joseph memandang bangga pada kedua anaknya ketika mereka sampai di puncaknya.

Sejak itu, duet kakak-adik, Reinhold dan Gunther tak dapat dipisahkan lagi dari gunung. Barisan pegunungan di Geisler Alps tak ada yang terlewat dari jarahan mereka. Kadang mereka ‘harus’ membikin surat keterangan sakit palsu agar bisa mendaki gunung. Pada usia 14 tahun Reinhold mulai demam hal baru. Saat menjajal rute Castiglionli yang dikenal sulit, tanpa menggunakan peralatan panjat. Alasannya, ia menganggap tali pengaman hanya akan mengganggu pergerakannya! Ia sudah memanjat ratusan kali dinding Domites Saas Rigais. Kemudian ke Alpen Barat. Di usia 20 tahun, telah mendaki seluruh rute sulit di pegunungan itu.
Reinhold kuliah di jurusan Arsitektur, Universitas Padua. Dekat kampusnya ada bukit kapur setinggi 150 meter yang sering dikunjunginya. Jogging selama dua jam sehari dan melintasi bentangan tali sepanjang 25 meter menjadi rutinitasnya. Ia bergelantungan bolak-balik di bentangan tali tersebut. Karena ulahnya itu, teman-temannya mengira ia ingin menjadi pemain sirkus.
Kemudian hari ia menjadi sosok pendaki yang terbesar di dunia. Kiprahnya mulai diperhatikan pada tahun 1968, saat ia sukses melakukan pendakian solo pertamanya di dua rute—yang kemudian diketahui sebagai rute yang tersulit—di antara Phillip-Flammdihedral di Punta Civetta dan Muka Utara Les Droites, 4.000 m. Sejak itu Reinhold dan Gunther menjadi terkenal di kawasan Alpen.
Beberapa klub pendaki mengajak mereka berdua bergabung dalam ekspedisi mereka. Misalnya pada tahun 1970, menjadi pendaki pertama yang mendaki ke Sisi Rupal di Nanga Parbat, 8.125 m, Pakistan, kemudian—masih jadi orang pertama—mendaki lereng Diamir di gunung itu. Sebuah rute tersulit di dunia! Puncak yang terdiri dari dinding es dan salju itu telah menelan 12 nyawa (pada masa itu). Kakak beradik itu berjuang habis-habisan. Sempat terjebak di camp V. Badai salju dan sengatan suhu beku memaksa mereka harus berkurung diri di tenda. Berkat kegigihan mereka, puncak itu bisa dicapai juga.
      Namun Reinhold sempat lalai memakai tali pengaman ketika menuju puncak—akibatnya mereka kesulitan untuk turun—menyebabkan mereka mengambil rute lain. Keputusan mengambil rute lain ini tentu mempunyai konsekwensi sendiri. Selain sudah teramat lelah, pasangan pendaki bersaudara ini juga tidak membawa jaket, tabung oksigen, makanan, dan minuman ketika menuju ke puncak tadi. Setelah berjuang melawan maut selama 3 hari, pasangan ini berhasil turun beberapa ratus meter—cuma tragisnya—saat menuruni sisi Diamir, Gunther tersapu longsoran salju akibat serangan badai dan hilang. Gunther, adiknya tewas pada kejadian itu dan Reinhold pun harus kehilangan enam ujung ruas jari kaki dan beberapa ujung ruas jari tangannya. Diamputasi akibat serangan frostbite.
Peristiwa itu sangat memukul perasaan Reinhold. Delapan tahun lamanya ia menghentikan aktivitas pendakiannya. Sepeninggal adiknya, Reinhold mengenal Peter Habeler, berasal dari Austria dan menjadi rekan seperjalanannya. Bersama Peter ia kembali ‘gila’ untuk menjejaki puncak-puncak di dunia. Termasuk ke Carstensz Pyramid yang telah dikunjunginya selama dua kali pada tahun 1971. Hampir semua pendakian spektakuler di Himalaya, ia yang melakukannya. Dia yang pertama memakai teknik Alpin-Style di puncak 8.000-an, yakni Gasherbrum I, 8.068 m (1975); Yang pertama melakukan pendakian solo ke Nanga Parbat, 8.125 m (1978).
Tahun 1978, mereka mendaki bersama tim Austria ke Everest dan Reinhold menjadi orang pertama yang mendaki Everest tanpa menggunakan tabung oksigen. Hal itulah yang menjadikan mereka berbeda dengan pendaki lainnya. Keputusan itu diambil karena mereka telah beberapa kali mendaki puncak di atas 8.000 meter tanpa bantuan oksigen, dan merekapun selamat. Pada tahun 1979, ia bersama Michael Dacher berhasil mendaki puncak K2, puncak ke dua tertinggi di dunia.
Pada tanggal 20 Agustus 1980, ia ingin mendaki Everest dari sisi Utara, secara solo dan juga tanpa bantuan tabung oksigen. Ia ditemani Nena Holguin sampai ketinggian 6.500 m. Mereka mendirikan tenda dan dari titik itu pula Reinhold mulai pendakian solonya menuju Puncak Everest. Hari itu, Reinhold berhasil menambah ketinggiannya sampai 1.300 m. Ia mulai terserang halusinasi, seolah-olah dia punya teman untuk mengobrol. Kesokan harinya, ia kembali melakukan pergerakannya dan berhenti pada ketinggian 8.250 meter. Malamnya ia tak bisa tidur dan bergumam sendiri. Keesokan pagi harinya bergerak kembali, ia hanya membawa kapak es dan kameranya. Selama enam jam ia melangkah perlahan-lahan. Awan tebal menutupi pandangannya menyebabkan dia harus mengandalkan nalurinya. Tiba-tiba langkahnya terhenti, tak ada lagi tanjakan. Dia menatap sekelilingnya. Di hadapanya ada tripod aluminium. Inilah titik tertinggi itu. Reinhold jatuh terduduk dan menangis. Cuma itu yang bisa ia lakukan karena ia hanya seorang diri, di titik tertinggi dunia ini. Diutarakannya semua gejolak perasaan, ketika ia sampai ke tenda Nena Holguin yang setia menungguinya. “Mungkin saya tak dapat mengulanginya lagi. Saya sudah mencapai batas kemampuan saya,” ucap Reinhold terbata-bata. Ia merasa haru dan bangga. Ia menjadi orang pertama yang mendaki Everest secara solo dan tanpa bantuan tabung oksigen. Itulah pengalaman ’manis’ yang pernah dirasakannya.

Tahun 1982 ia menjadi orang pertama yang berhasil mendaki tiga puncak paling tinggi di dunia yaitu, Everest, Kangchenjunga dan K2. Ia juga sebagai orang yang pertama yang berhasil mencapi 14 Puncak yang tingginya di atas 8.000-an rata-rata tanpa menggunakan tabung oksigen. Ia juga anggota ekspedisi ke Andes dan Yerupraja. Pada tanggal 17 Oktober 1986, Messner bersama Hans Camerlander mendapat suguhan secangkir kopi hangat di kemah induk Lhotse, 8.516 m—itulah penghargaan dari pendaki-pendaki kaliber dunia yang telah menjejak puncak Lhotse. Ia memang sosok alami, manusia pertama yang berhasil melakukan pendakian marathon di dua puncak 8.000-ers. Orang pertama di bumi yang berhasil menggenapkan keempat belas 8.000-ers. Semua dibukanya dengan rute-rute baru lagi! Maka tak salah bila salah satu perusahan jam terkenal, Rolex, memakai Reinhold Messner sebagai model iklan. 

the Fourteen Dead Zone 8.000-ers yang sudah dijejakinya adalah :
1.       Everest, 8.848 m, Nepal-Tibet (1978-80).
2.       K2 (Chogari), 8.611 m, Pakistan-Cina (1979).
3.       Kangchengjunga, 8.586 m, India-Nepal (1982).
4.       Lhotse, 8.516 m, Nepal-Tibet (1986).
5.       Makalu, 8.463 m, Nepal-Tibet (1974-86).
6.       Cho Oyu, 8.201 m, Nepal-Tibet (1972).
7.       Dhaulagiri,  8.167 m, Nepal (1985).
8.       Manaslu, 8.163 m, Nepal (1972).
9.       Nanga Parbat, 8.125 m, Pakistan (1970-78)
10.   Annapurnna, 8.091 m, Nepal (1985).
11.   Gasherbrum I, 8.068 m, Pakistan-Cina (1975-1984).
12.   Broad Peak, 8.047 m, Pakistan-Cina (1982).
13.   Shisha Pangma, 8.046 m, Tibet (1981).
14.   Gasherbrum II, 8.035 m, Pakistan-Cina (1982-84).

*Dicuplik dari berbagai sumber (naskahku yang belum terbit)

2 comments:

  1. Reinhold messner...hummm...baru denger dan baru tau cerita dari blog ini hehe..thank

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Caderabdulpacker, thanks udh mampir :)

      Delete