Saturday, February 15, 2014

Blue Twister



 
static5.depositphotos.com
Malam minggu dari pada manyun, nggak ada yang diapelin, Ganes berkunjung ke rumah Onal, teman lamanya yang anak otomotif SMK 70 itu. Onal yang cukup ahli soal mesin, apa lagi mesin motor. Entah sudah berapa kali motor bebeknya di-tune up olehnya. Dia jago kebut-kebutan di jalan. Dia juga menjadi pimpinan Twister. Kelompok racer amatiran di kota Palembang. Ganes memasuki gerbang rumah Onal. Terlihat Onal sudah bersiap-siap hendak pergi. Ketika melihat tampang Ganes yang cengar-cengir , dia sempat terkejut. Senyumnya mengembang. Dia urung men-starter motornya.
“Wah! Angin apa yang membawa Orang Gunung mampir ke sini!” sapanya ramah.
“Sompret! Apa kabar Muka Cyborg!” jawab Ganes cepat sambil tertawa. Onal turun dari motor kesayangannya itu. Mereka berjabat tangan akrab. Kemudian duduk di beranda sambil bercerita ngalor-ngidul. Karena sudah cukup lama tidak bertemu.

“Elo tadi udah mau nge-caw ke mana, Nal?”
“Gue ada janji,” jawab Onal serius.
“Mau ngapel? Sori kalo gue ngeganggu elo...” Ganes merasa tidak enak. Tapi Onal memotong perkataan Ganes.
“Bukan. Emang ngapelin siapa lagi. Nadya udah mutusin gue!” ucapnya Santai.
“Diputusin, kenapa? Sayang banget. Dia cantik, ” Ganes mengerutkan dahinya.
“Nggak tau juga. Kata dia gue lebih cinta motor gue ketimbang dia,” jawab Onal tertawa masam. Ganes cuma tertawa nyengir mendengarnya. Onal memang sangat menyayangi motor bebek biru yang diberinya nama ‘Blue Twister’ itu. Motor itu memang terlihat keren, gagah mengkilap. Mungkin paling gagah di antara motor-motor bebek lainnya. Onal juga bercerita, bahwa nanti malam Twister ditantang berduel oleh anak-anak Thunder. Dia terlihat bersemangat kalau lagi bercerita tentang pengalamannya kebut-kebutan di jalan.
“Ikut gue aja ya, Nes?!”
“Kemana?”
“Dasar Gokil! Ya itu tadi, nepatin tantangan itu!” Onal bersungut.
“Apa nggak bisa di-cancel dulu, Nal? Gue pengen begadang di rumah elo. Kita bisa ngobrol nyampe pagi,”  ucap Ganes dengan wajah serius.
“Nggak bisa, dong! Apa kata Twister kalo gue cancel! Lagian yang nantang itu bukan cuma anak lokal, Nes. Ada Jef, temennya Dion Thunder. Kabarnya anak Bandung yang lagi berkunjung ke sini!” Jawab Onal lebih serius. Kelihatannya dia memang tidak ingin mengecewakan gank motornya.
“Apa bukan alasan yang lain?” tanya Ganes penuh selidik.
“Iya juga. Taruhannya cukup gede!” jawab Onal tertawa lepas.
“Dasar, Cyborg!” maki Ganes sambil ikut tertawa. Disebut begitu Onal cuma tertawa. Memang tulang rahang muka Onal terlihat gede persegi dan-- jerawatan. Jerawat batu, lagi! Makanya Ganes memanggilnya si Muka Cyborg.
Jam sembilan malam, mereka berangkat. Ganes dibonceng Onal di belakang.  Sebelumnya mereka menjemput anak-anak Twister yang lainnya. Ternyata semua motor mereka punya nama. Ada yang Black Twister, Red Twister dan sebagainya. Berdasarkan warna motor atau stiker yang tertempel pada motor mereka. Mereka konvoi bareng menuju ke suatu tempat yang tak asing lagi bagi mereka. Brrrooooarrrmmm!!! Suara raungan beberapa motor yang knalpotnya telah dibuka. Membahana di jalan raya Sudirman. Beberapa orang di jalan menutup telinga sambil memaki-maki. Mereka tetap melaju cuek. Terlihat bangga dengan motor jambrongnya.
Mereka menuju pada satu titik ke daerah taman bundar. Taman yang mengelilingi sebuah kolam yang cukup luas. Orang-orang sini menyebutnya Kambang Iwak (KI). Di daerah itu juga terdapat sebuah hotel berbintang lima serta sebuah diskotik. Tidak mengherankan bila aktivitas di daerah itu tak pernah sepi. Entah siang atau malam selalu ramai. Apalagi menjelang malam minggu atau hari libur. Selain itu juga, KI (baca: kei-ai) merupakan salah satu lokasi mejeng anak muda. Ajang pamer, sekaligus sirkuit para racer amatiran. Seperti malam ini, selepas maghrib-- sudah nongkrong berbagai macam tipe dan merek kendaraan roda dua mau pun roda empat. Ada yang sekedar duduk cuci mata sambil mamerin mobil bokap. Ada yang cari cewek. Ada juga ikut balapan yang penuh resiko dan tak berhadiah itu. Ada juga yang doyan bertaruh lewat acara adu kebut itu. 
Setengah jam kemudian, rombongan Twister tiba di bundaran KI. Wah! Sudah ramai rupanya. Mereka nangkring diatas motor atau juga di atas mobil. Berjejer serabutan di pinggiran jalan. Ramai banget, baik remaja cowok mau pun remaja ceweknya. Remaja ceweknya pun ada tang ikut beraksi, tapi kebanyakan cuma ikut membonceng di belakang. Mungkin ikut cowok-cowok mereka, ya? Tawa dan pekik manja mereka terdengar ceria seakan tanpa beban. Entah anak-anak gadis siapa mereka itu Masih bisa kelayapan di malam hari begini, yang pasti mereka itu anak-anak gadis produk perkotaan. Beberapa orang sudah melakukan aksinya. Entah mau unjuk kebolehan atau juga cuma sekedar memanaskan mesin motor. Ganes memandangannya dengan perasaan was-was. Bayangkan, mereka ngebut susul menyusul dengan kecepatan tinggi. Tanpa memakai helm lagi! Beberapa kali di antara mereka hampir berserempetan, tapi dengan sigap mereka bisa mengelakkannya.
Ganes pernah bertanya pada Onal, kenapa mereka begitu menyukai permainan yang mempertaruhkan nyawa ini. Onal bilang, sama seperti kita yang doyan mendaki gunung, yang tidak mengerti akan mengatakan kita bodoh, amor fati! Karena mereka tidak tahu kebahagiaan serta kepuasan batin yang kita peroleh, setelah ikut terjun ke dalamnya. Bener juga kali, ye?  Yang bikin lucu kalo para petugas patroli datang, mereka jadi kalang kabut tak tentu arah Tak jarang terjadi kejar-kejaran. Tapi dasar yang namanya hobi, setelah petugas patroli lewat mereka kembali dan melakukan aktivitas mereka lagi. Mereka tak pernah jera meski sering ditangkap. Tak pernah jera. Walau pun sering terjadi kecelakaan hingga nyawa melayang atau cacat seumur hidup. Mereka juga tak pernah takut dengan contoh-contoh nyata yang pernah terjadi. Mereka punya prinsip, “Peristiwa kemarin adalah kemarin, peristiwa hari ini adalah hari ini, nasib orang bukan nasib gue.” Riskan banget, ya?
Ganes juga tak habis pikir, kenapa mereka tidak menjadi pembalap sesungguhnya. Biar lebih profesional, lebih resmi, lebih menjanjikan dan kalau terjadi kecelakaan kan ada ansuransinya serta tidak bakalan diuber-uber oleh petugas patroli, ya nggak? Mungkin kembali lagi ke alasan pribadi mereka yang tidak suka terikat aturan. Sebab di balapan resmi, bakal banyak aturannya. Aturan Manajer, aturan balapan serta aturan-aturan lainnya. Mereka kan orang yang sulit diatur! Lebih mengutamakan kebebasan. Mereka lebih menyukai aturan sendiri yang simpel-simpel saja. Meski segala resiko bakal ditanggung sendiri. Padahal baik yang profesional mau pun amatiran kan sama resikonya. Sama-sama  beresiko tinggi. Nggak tahu kalo mereka punya nyawa serep, ya nggak?! Yang lebih lucu lagi, mereka banyak yang belum pernah ikut perlombaan resmi. Padahal hampir tiap malam minggu atau liburan mereka selalu ikut kebut-kebutan di bundaran KI.
Selagi Ganes asyik memikirkan kehidupan para racer amatir itu. Tiba-tiba sebuah sedan silver melakukan atraksi putaran slalom. Bunyi jeritan ban yang bergesekan dengan aspal, memekakkan telinga. Orang-orang yang menyaksikannya bertepuk tangan sambil bersuit nyaring. Kemudian mobil sedan itu menepi ke pinggir, pengemudinya keluar, gila seorang cewek! Sambil tersenyum renyah dia menghampiri teman-temannya. Wih! Macan (manis cantik) juga. Kelihatannya memang anak borjou. Anak yang nggak pernah tahu harga beras!
“Hey!” Ganes terlonjak kaget, Onal mengejutkan lamunannya.
“Gue ajak elo ke sini, bukan buat ngelamun, Kil!” tambahnya lagi. Ganes tersenyum nyengir sambil garuk-garuk kepala.
“Gue kagum ama cewek itu, Nal.”
“Jauh, Nes. Tongkrongannya borjou semua, nggak kuat!” jawab Onal polos sambil tertawa.
“Ye, elo! Gue kan cuma kagum ama atraksinya, doang. Cewek begituan bukan tipe gue, Nal!” jawab Ganes seenaknya.
“Emang tipe elo yang bagaimana, Nes?” tanya Diki.
“Jangan percaya mulut orang gunung, Dik! Dia sama aja ama elo, sama-sama buaya garing!” Onal tertawa.
“Sompret!” Maki Ganes dan Diki  hampir bersamaan.
“Bener, Dik. Tipe begituan cuma bisa bersolek dan foya-foya doang. Coba kalo dia disuruh ke dapur. Masak misalnya. Pasti dia cuma bisa terbengong bloon. Mungkin disuruh masak air aja, bakal gosong!” ujar Ganes tertawa, diiringi tawa anak-anak Twister yang lain.
“Terang aja, pembantu di rumahnya sudah pasti banyak,” tambah Onal juga. Selagi asyik bercanda, serombongan pengendara motor bebek masuk ke daerah itu. Mereka langsung menghampiri Onal dan rekan-rekannya.
“Anak-anak Thunder, Nal.” bisik Eki pada Onal. Mereka menyambutnya dengan ramah. Setelah berbasa-basi sebentar serta memperkenalkan si Jef anak Bandung itu...
“Gimana kita langsung, apa ngangetin mesin dulu?” tanya Dion santai.
“Nyantai aja, kita ngangetin mesin dulu!” jawab Onal tenang. Kemudian tiga pasang motor sudah mengambil posisi start. Tiga anak Twister, tiga anak Thunder. Suara gas motor meraung-raung sebentar. Kemudian seseorang mengangkat tangannya dan... mereka melesat ke depan. Saling membayangi, saling potong dan dahulu mendahului. Berputar-putar di sirkuit bundaran Kambang Iwak. Jantung Ganes berdebar, ketika melihat mereka nyaris berserempetan. Gila! Benar-benar setan jalanan! Batin Ganes. Setelah tiga putaran, mereka menepi kembali. Onal tampil sebagai pemenang dalam pemanasan itu.
“Tolong di-clean dulu!” kata Onal pada yang lain. Diki Twister dan Bobi Thunder berputar mengelilingi sirkuit Kambang Iwak perlahan. Mereka menyuruh racer-racer amatir lainnya, agar menyingkir sebentar. Dan semua menurut, karena kelompok Twister dan Thunder cukup disegani di sirkuit bundaran KI ini. Dalam waktu singkat, sirkuit sudah lengang. Para racer amatir lainnya sudah menyingkir ke pinggir sirkuit. Waktu menunjukkan hampir jam dua belas malam. Mereka berjejer di pinggiran. Menanti adegan yang menegangkan. Duel antara Onal Twister, Dion Thunder dan si Jef anak Bandung. Mereka bertarung untuk memperebutkan nama sekaligus segepok uang taruhan.
“Hati-hati, guys!” pekik Ganes mengingatkan mereka. Mereka mengangguk mantap. Mereka telah berada di posisi start. Suara motor meraung-raung dahsyat. Tepat jam nol-nol tengah malam, Diki sebagai juri mengangkat tangannya. Ketika tangan Diki diturunkan, secepat kilat mereka melesat. Pada awalnya mereka berjajar saling membayangi. Kemudian Jef mulai memimpin di depan. Onal dan Dion masih sibuk bersaing untuk berada di posisi kedua. Pada putaran pertama Jef masih memimpin dan Onal berhasil meninggalkan Dion di belakang. Sekarang dia berusaha keras menyusul Jef. Hampir berhasil. Namun tiba-tiba Jef merapat ke arah Onal untuk membayanginya. Onal mengelak ke samping, Blue Twister-nya oleng, akibatnya mereka hampir berserempatan. Orang-orang yang menonton adegan itu menahan nafas. Tegang. Kemudian bersorak-sorak memberi semangat. Memasuki putaran ke dua, Onal makin dekat ke arah Jef. Dia akan memotong dari arah kiri, gila banget! Kembali Jef menghalanginya. Kali ini Onal menjaga jarak dan pada tikungan berikutnya, Onal berhasil menyalip si Jef. Cepat dan tiba-tiba.



Anak-anak Twister bersorak girang karena memasuki putaran ke tiga, Onal berhasil memimpin di depan. Jef dan Dion berusaha keras untuk menyusulnya. Perlahan namun pasti Jef berusaha menjajari Onal kembali. Onal menarik gas Blue Twister-nya lagi. Pada detik-detik terakhir menjelang finish, Jef hampir mensejajarinya. Tapi kemenangan sudah berada di tangan Onal dan entah disengaja atau tidak, tiba-tiba ban depan motor Jef menyenggol ban belakang Blue Twister. Onal dan motornya jadi oleng dan—brraaakk! Onal terbalik. Begitu juga dengan si Jef. Tubuh dan motor mereka terpental. Terbanting keras bergulingan di aspal. Bersamaan dengan itu, Dion yang melaju kencang dari belakang, menghantam keras ke arah mereka . Tak ayal lagi tabrakan beruntun terjadi. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu menjerit dan terpana melihat adegan mengerikan itu. Mereka memburu ke arah Onal, Dion serta Jef.  Motor-motor mereka rusak berat dan tubuh mereka berdarah! Semua merubung dengan panik. Memanggil-manggil nama mereka. Orang-orang itu tidak sempat melihat bagian tubuh mana yang terluka. Yang pasti sekujur tubuh mereka berlumuran darah segar.
“Diki! Bobi! Mereka harus cepat kita bawa ke rumah sakit!” pekik Ganes gugup.
“Iya tapi pake apa? Motor?!” jawab Diki dan Bobi bersamaan. Mereka kelihatan sangat bingung dan panik. Ganes terdiam kemudian menebarkan pandangannya.
“Cari taksi! Taksi di hotel!”
“Taksi di diskotik!” Terdengar suara-suara yang lain. Hotel dan diskotik berada ratusan meter dari situ. Tiba-tiba Ganes berlari ke arah mobil si Macan dan teman-temannya.
“Tolong! Anterin mereka ke rumah sakit!” Ganes memohon padanya, tapi cewek Macan itu kelihatan ragu dan-- gila! Menggeleng!
“Tolonglah! Ini menyangkut nyawa orang!” pinta Ganes sekali lagi. Si Macan masih kelihatan ragu. Gokil jadi naik pitam. Beberapa anak Twister dan Thunder menyusulnya.
“Kalo kalian nggak mau menolong, gue bakal hancurin mobil-mobil kalian!” Gila banget! Ganes mengancamnya. Sepertinya dia tidak main-main. Bogemnya terangkat ke atas. Siap menghantam kaca depan sedan itu...
“Iy--iya... kami anterin!” Si Macan jadi ketakutan. Mereka berdesak-desakan di tiga mobil itu, melesat ke Rumah Sakit Benteng.
Sampai di rumah sakit, para korban langsung masuk ruang UGD. Keluarga mereka langsung dihubungi. Semua pengantar duduk diam membisu. Menunggu kedatangan keluarga para korban. Ganes mendekat ke arah si Macan dan teman-temannya yang mengantar tadi.
“Terima kasih atas pertolongannya. Pertolongan kalian sangat berarti bagi Mereka. Dan gue juga mau minta maaf. Gue sadar cara-cara gue tadi salah. Gue siap kalo kalian mau men...” Tapi buru-buru si Macan memotong perkataan Ganes.
“Nggak apa-apa. Rasanya kami yang perlu minta maaf. Karena sempat menolak.”  Ganes tidak menyangka si Macan bakal menjawab begitu. Dia merasa lega mendengarnya.
“Sekali lagi terima kasih, ya. Ngg… kalian mau ikut menunggu atau mau pulang ? Sebab malam makin larut. Kami akan menunggu sampai pagi. Kalo kalian mau pulang silahkan. Sekali lagi kami ucapin terima kasih,” kata Ganes menganjurkan. Semua teman-teman si Macan saling pandang. Kemudian Mereka memandang ke arah si gadis Macan.
“Kalian pulang aja duluan.” Walah! Si Macan menyuruh teman-temannya pulang duluan? Mendengar itu, Ganes mengerutkan kening keheranan.
“Elo, Ca? Mau ikut nungguin?” tanya mereka tak percaya mendengar perkataan Macan, yang dipanggil “Ca” itu.
“Yaaah... Gue pulang, nggak pulang nggak ada bedanya,” jawabnya santai. Tapi nada bicaranya terdengar putus asa sekaligus menyiratkan kekecewaan. Ganes jadi penasaran dengan dengannya. Akhirnya teman-temannya pulang meninggalkannya sendirian. Kemudian Macan duduk ke sebelah Ganes.
“Ng-- Elo nggak dicariin orang tua elo?” tanya Ganes hati-hati. Macan menghela nafas mendengar pertanyaan itu.
“Bagi gue, pulang nggak pulang sama aja. Oh ya, nama elo siapa?” Dia balik bertanya.
“Gue Ganes. Elo?”
“Oca.”
“Elo sering ke bundaran KI?” tanya Ganes lagi.
“Hampir tiap malem Minggu atau liburan. Tepatnya sih, suka-suka gue. Habis gue nggak pernah kerasan di rumah. Terus nggak bakal dicariin,” jawabnya pelan. Ganes terdiam. Mungkin dia anak broken home. Tebak Ganes dalam hati.
“Bokap nyokap gue pada sibuk semua. Jarang ada di rumah.” tambahnya lagi.
“Elo sekolah di mana, Ca?”
“Di SMU Andalas.” Wah! Dia sekolah di sekolah swasta yang bonafit di kota ini.
“Anak tunggal, ya?” tanya Ganes lagi.
“Nomor dua. Gue ada abang. Tapi... udah minggat entah ke mana.” Selagi berkata begitu, wajahnya kelihatan sedih sekali. Ganes merasa tidak enak hati.
“Maaf, Ca. Bukan maksud gue...”
“Ah, nggak apa-apa, Nes! Gue senang elo banyak tanya begitu. Gue merasa diperhatiin jadinya,” jawab Oca polos sambil tersenyum. Kasihan. Pasti dia haus kasih sayang dan perhatian. Untuk sesaat mereka berdua hanya saling diam membisu.
“Elo sering ikut kebut di KI, Nes?” Tiba-tiba Oca bertanya.
“Nggak pernah. Gue orangnya takut mati, kok!” jawab Ganes polos. Kemudian dia tertawa nyengir.
“Masa? Elo bohong. Jadi tadi ngapain ngejogrok di sana?” Oca tak percaya. Belum sempat Ganes menjawabnya, keluarga Onal dan Dion hadir hampir bersamaan. Mereka masuk ke ruang tunggu UGD. Mereka langsung mencecar anak-anak Twister dan Thunder, yang memang sudah Mereka kenal sebagai teman main anak-anak mereka. Mereka bertanya dengan nada cemas, marah dan kesal bercampur jadi satu. Cemas tentang keselamatan anak-anak mereka. Marah dan kesal karena larangan dan nasehat mereka untuk tidak kebut-kebutan di jalan, selalu dilanggar oleh anak-anak mereka. Tiba-tiba pintu salah satu ruangannya terbuka. Seorang dokter keluar, kedua keluarga itu merubung ke arahnya.
“Anak saya gimana, Dok?!”
“Anak saya selamat kan, Dok?!” tanya mereka panik dan cemas. Semua menunggu jawaban dokter itu dengan tegang.
“Tenang. Semuanya harap tenang. Keluarga Jefri ada di sini?” Semua nampak kebingungan mendengar pertanyaan dokter itu..
“Kok, Dokter nanyain anak orang lain! Nama anak saya Onal, Dok?!”
“Iya, Dok! Anak saya?! Anak saya Dion, Dok?!” tanya para ibu itu panik. Mereka juga terlihat kesal.
“Tenang, Ma. Dia teman anak saya Dion, Dok,” jawab laki-laki yang mungkin papanya Dion itu. Dokter itu menghela nafas...
“Dia tidak tertolong. Pendarahan di otaknya sangat parah”  
“Aa-a- anak saya gimana, Dok?!”
“Aa- nak saya, Dok?!” Ibu Onal dan Dion bertanya makin panik sambil menarik-narik baju dokter itu. Dokter itu tampak kewalahan. Suami mereka dan keluarganya yang lain mencoba menenangkan mereka. Kemudian dokter yang merawat Onal dan Dion keluar. Mereka mengabarkan bahwa keduanya berhasil diselamatkan. Mendengar kabar itu, mereka menangis antara sedih dan bahagia. Kasihan banget mereka, ya! Mereka adalah sebagian kecil dari orang-orang tua yang menderita akibat ulah anak-anak mereka. Entah bagaimana reaksi keluarga Jefri yang di Bandung nanti, begitu mendapat kabar tentang kematian anak mereka. Biarlah Tuhan yang akan mengaturnya.
Kelang satu hari Ganes membesuk Onal lagi. Ibu Onal menyambutnya ramah dan memberi kesempatan Ganes untuk menemaninya. Dia merasa sedih melihat keadaan Onal. Onal yang jago mesin. Yang jago ngebut dan Onal si Muka Cyborg. Dia terbaring lemah dengan tubuh penuh balutan, kecuali muka dan perutnya.. Kaki kanannya di-gif.  Dengar-dengar kabar dari keluarganya, Onal bakal cacat seumur hidup. Bakal pincang, karena tulang lututnya remuk. Sedang si Dion bakal lumpuh total. Dia mengalami cidera tulang punggung yang cukup parah. Tragis banget kan! Kasihan, elo nggak kayak cyborg lagi, tapi mirip mummi, Nal! Coba gue kemarin berhasil meng-cancel kepergian elo. Mungkin nggak akan begini jadinya. Bisik batin Ganes penuh sesal. Dia duduk diam di tepi ranjang Onal. Dia mengamati keadaan temannya itu. Tiba-tiba Onal terbangun dan bergumam. Lebih mirip merintih, Ganes mendekat.
“Kenapa, Nal, mau minum?” tanya Ganes pelan. Onal menggeleng lemah. Dia berusaha tersenyum melihat kehadiran Ganes.
“Gimana keadaan elo sekarang?”
“Mendingan, Nes.” Wajah Onal meringis seperti menahan sakit. Suaranya terdengar parau dan berat. Kemudian dia berbicara lagi.
“Si Jef meninggal. Dion bakal lumpuh dan gue... bakal pincang seumur hidup. Sayang sekali, Nes...” Onal menghentikan kata-katanya. Wajahnya kembali meringis menahan sakit. Ganes mengerutkan keningnya.
“Ya?” Ganes menunggu kelanjutan kata-kata Onal.
“Ya, sayang sekali. Blue Twister gue rusak berat... Jefri main curang. Dia sengaja menyerempet gue. Akibatnya kecelakaan ini terjadi. Padahal sudah pasti gue jadi pemenangnya,” ujar Onal dengan suara parau. Terdengar cukup santai. Ganes melongo bloon mendengar kata-kata Onal barusan. Rupanya di otak Onal cuma ada kata-kata menang dan Blue Twister-nya. Gila banget nih, anak! Udah untung masih bisa bernafas, eh, dia masih mikirin itu semua. Gumamnya dalam hati.
“Elo emang gila, Nal. Udah sekarat begini, masih bisa mikirin Blue Twister elo. Mikirin menang balapan yang hampir merenggut nyawa elo. Seharusnya elo tuh, mikir! Mikirin gimana keadaan elo sekarang! Dasar muka Cyborg!” maki Ganes dengan kesal. Mendengar itu Onal cuma meringis. Entah menahan sakit atau cuek pada kata-kata Ganes barusan. Entahlah hanya dialah yang tahu. [end] [Ganezh 13-07-1999]

No comments:

Post a Comment