Saturday, February 15, 2014

Bis


Siang itu, Kota Palembang terasa lebih panas dari biasanya. Matahari melotot garang dengan teriknya. Tampak Ganes berdiri gelisah di halte bis di ruas Jalan Basuki Rahmat. Mulutnya sudah ngedumel sendiri. Merasa kesal belum juga dapat tumpangan. Kendaraan yang lewat selalu beda jurusan atau sudah sarat penumpang. Tampak doyong kelebihan muatan. Para sopir dan kondektur bis kota memang tak pernah jera, meski sering terjadi kecelakaan akibat kelebihan muatan. Merasa tak perduli dengan kondisi bis yang oleng ke kiri. Pikirannya hanya dapat memburu setoran sebanyak-banyaknya. Anehnya, masih ada saja penumpang yang mau naik. Meski harus berdiri, berdesakan atau bergelantungan, sampai ke kedua pintunya. Tak memikirkan keselamatan mereka sendiri. Merasa penting cepat sampai ke tujuan. Padahal jika terjadi kecelakaan, akan lebih cepat sampai ke rumah sakit atau malah akhirat! 

Ganes sedikit bernafas lega, bis jurusan Kertapai-Perumnas yang dinantinya akhirnya muncul juga. Bis yang belum penuh itu gesit menghampirinya. Ganes bergeas melompat naik dan duduk di bangku deretan belakang. Bis melaju dengan kecepatan tak beraturan. Bahkan sering berhenti mendadak, untuk meraup penumpang yang berjejer di halte atau di jalanan. Bagi penumpang yang belum mantap berpegangan atau meletakkan pantatnya siap-siap saja terjengkang. Entah kalau kalau ada penumpang yang hamil, mungkin bisa-bisa beranak di tempat.
Bis yang ditumpangi Ganes, mulai melaju susul menyusul di antara bis-bis lainnya. Seakan takut calon penumpangnya direbut oleh bis yang lainnya. Sang kondektur bergelantungan di bibir pintu. Berteriak meneriakkan tujuannya dengan penuh semangat. Lalu bersiul nyaring, ketika bisnya berhasil mendahului bis yang lain. Sepertinya, ia begitu menyenangi aksinya itu.
Bis kota paling suka menyerobot jalur kiri lampu merah. Meski kadang harus memutar ke jalan lain. Sopir-sopir itu tak pernah jera, walau pun sering kena tilang aparat. Mungkin dengan memberikan ‘tips’ sedikit ke oknum aparat, mereka sudah bisa bebas kembali. Mereka juga sering menyalip kendaraan lain. Membikin mobil-mobil angkot atau mobil pribadi lari menghindar. Mereka yang takut body mobilnya tergores atau malah keserempet si Raja Jalanan, harus menyingkir sambil memuntahkan kata-kata makian. Sementara bis kota tetap melaju tanpa beban.
Makin lama bis kota yang ditumpangi Ganes makin dipenuhi penumpang. Berdiri dan berdesakan. Udara gerah bercampur peluh juga berbagai bau membaur jadi satu. Ada yang marah sambil memaki-maki, saat kakinya terinjak. Ada yang marah ketika ‘bagian’ tubuhnya tersentuh penumpang lain. Terutama kaum perempuan, harus lebih hati-hati, karena ada penumpang berhidung belang, atau penumpang bertangan panjang [copet] yang pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Soal pedagang asongan di bis ini, tergolong ‘agak mendingan’, karena tak seagresif asongan bis ekonomi luar kota. Yang sering berlari melompat naik atau turun dari kendaraan. Atau sengaja meletakkan barang daganganya ke pangkuan penumpang. Di bis ini, mereka berteriak-teriak dari luar. Tak ada juga yang ‘berceramah’ lalu meminta sumbangan atau pengamen yang ‘berpuisi’ ala penyair kawakan, seperti di kota-kota besar lainnya.
Di kota yang terkenal dengan pempek, Jembatan Ampera dan Sungai Musi ini, nyaris semua kendaraan angkutan umumnya punya ‘sound system’ yang bakal ‘menggedor’ jantung para penumpang. Entah sub woofer bagus atau speaker sember siap berdendang. Menambahi keriuhan penumpang, Pak Sopir akan menyetel tape mobilnya yang sember dengan volume yang keras. Dari musik dangdut klasik, koplo, disko, house, hingga album kenangan akan didentumkan. Tak akan pernah terdengar lagu-lagu berirama jazz atau instrumental yang lembut mendayu-dayu di bis kota. Sopir tak perduli dengan suasana bis kota yang sudah sangat sumpek. Kepalanya tampak bergoyang-goyang mengikuti irama musik yang menghentak. Bis kota terus saja melaju membelah jalan raya.
Ketika bis kota berhenti ‘dihadang’ lampu merah, di Perempatan Simpang Polda, naik dua pemuda yang kelihatan dekil sambil membawa gitar tua. Memohon Pak Sopir mematikan tape-nya sebentar, karena mereka ingin ‘menghibur’ para penumpang bis kota yang sumpek kegerahan. Si Sopir itu cukup toleran mematikan tape mobilnya. Sejenak penumpang menarik nafas lega, terbebas dari ‘tabokan’ tape mobil yang sember tadi. Salah seorang pengamen tadi membuka salam ala presenter, lalu mengalunlah tembang lagu dari mulut temannya yang pegang gitar. Sesekali ia jadi backing vocal temannya. Dengan suara yang pas-pasan mereka menyanyikan sebuah lagu bernadakan kritikan sosial. Mengkritik kebijakan pemerintah kita yang timpang dan oleng bak bis kota yang mereka tumpangi. Belum habis lagu yang dibawakan, pengamen yang berperan sebagai ‘presenter’ tadi mulai mengedarkan kantung plastik. Mereka segera ‘menagih’ uang jasa, karena telah ‘menghibur’ para penumpang bis kota dari rasa sumpek dan gerah di dalam bis kota. Beberapa orang memberikan uang recehnya, begitu juga dengan Ganes. Sebelum turun pengamen yang berperan sebagai ‘presenter’ tadi menutup ‘pertunjukkannya’ dengan ucapan terima kasih, seraya mendoakan para penumpang bisa selamat sampai tujuan. Sebelum melompat turun mereka mengucapkan terima kasih pada Pak Sopir. Mereka akan memburu bis kota lainnya.
Lumayan mereka adalah pengamen simpatik. Tak jarang di antara mereka ada tidak sopan. Agak memaksa, memaki atau malah marah kalau tak diberi recehan. Jangan salah! Selain masyarakat umum, di antara pengamen itu ada yang berstatus mahasiswa atau anak sekolah yang cari uang tambahan. Entah untuk tambahan uang sekolah, kuliah, uang beli rokok atau malah ‘minuman’. Setelah para pengamen itu turun, Pak Sopir kembali menghidupkan tape mobilnya. Para penumpang kembali ‘dihiburnya’ dengan suara musik yang menghentak. Duk-ces! Duk-ces! Duk-ces!
Bis kota kembali berhenti untuk menaikkan atau menurunkan penumpang di halte berikutnya. Tak jauh dari perempatan lampu merah RS. Charitas, dua orang laki-laki dengan membawa secarik kertas dan pulpen menghampiri sopir atau kondektur. Biasa, meminta ‘jatah preman’ alias ‘pungli-pungli’ jalanan. Tak jarang terjadi keributan antara sopir atau kondektur dengan mereka. Anehnya, aparat seperti tak perduli dengan kejadian itu. Padahal nyaris di setiap halte bis bertengger tiga sampai lima orang yang melakukan kegiatan tak resmi itu.
Bis kota terus melaju meneruskan perjalanannya dan berhenti di halte dekat Pasar Cinde. Membarengi penumpang yang turun atau naik, dua orang bocah laki-laki dan perempuan ikut naik ke atas bis kota. Kondisi mereka lusuh, berdaki dan (maaf) berbau amis. Bocah perempuan itu menggendong anak kecil yang tak henti-hentinya menangis. Dengan bermodalkan ‘kicikan’ alat musik dari tutup botol yang dipipihkan itu, mereka menyanyikan lagu yang tak jelas juntrungannya. Pak Sopir juga tak akan mematikan tape mobilnya hanya kehadiran para pengamen cilik itu. Bocah-bocah itu juga tak perduli, yang penting mereka terus ‘menyanyi’ dan mendapatkan recehan para penumpang. Akhirnya, suara tape, kicikan, vocal cempreng pengamen cilik, pekikan kondektur, suara mesin mobil di-mixing jadi satu dalam kotak bernama bis kota itu. Hiruk pikuk itu masih ditambah tangisan anak kecil yang digendong oleh pengamen cilik itu. Kalau mau jadi backing vocal tentu tak mungkin, tapi kalau ia merasa kepanasan, kehausan bahkan kelaparan itu sangat mungkin.
Kasihan…” Gumaman seperti itulah yang paling sering dilontarkan bila kita melihat mereka. Tiga bocah pengamen itu cuma gelintir dari sekian banyak orang yang ‘berserakan’ di jalanan kota-kota besar. Mereka sengaja ‘disebar’ untuk mencari uang oleh ‘orang-orang tua’ mereka yang kebanyakan hanya duduk-duduk mengemis di perempatan lampu merah, trotoar jalan, atau emper pertokoan. Tanpa sadar mereka telah mengeksploitasi anak di bawah umur! Tapi mereka memang tak mengenal istilah kata itu. Apalagi untuk mengerti istilah itu. Yang mereka tahu, anak-anak itu sudah dilahirkan, jadi wajib diajarkan bagaimana caranya hidup dan bagaimana cari duit di kota besar. Belum lagi ada istilah ‘sewa bayi’. Misalnya seorang ibu dari golongan mereka punya anak bayi. Ia bisa menyewakan bayinya, pada pengemis lain, untuk dibawa mengemis biar tampak lebih ‘meyakinkan’ atau lebih ‘menyedihkan’ dan berharap akan lebih banyak dapat uang recehan. Golongan ini juga ada yang mengkoordinir serta ‘melindungi’ mereka dari gangguan kelompok lain, biasanya para ‘preman’. Para pengemis itu juga harus menyetor sekian persen kepada para ‘pengatur’ dan ‘pelindung’ itu. Kalau setorannya kurang, tanggung sendiri akibatnya.
Bis kota berhenti di halte berikutnya. Nyanyian para pengamen cilik itu pun berakhir. Lalu kedua bocah itu menadahkan tangan-tangan mungilnya. Beberapa penumpang bis memberikan uang recehnya. Begitu juga dengan Ganes. Diam-diam Ganes memperhatikan anak kecil dalam gendongan bocah perempuan itu. Ia juga bertanya dalam hati. Kenapa orang-orang seperti mereka terus bertambah? Apa anak-anak itu cuma hasil dari tuntutan kebutuhan biologis para ‘penghasil’ mereka? Atau, anak-anak itu memang ‘diproduksi’ untuk menghasilkan ‘generasi-generasi penerus’ mereka? Kaum urbanisasi atau apa? Entahlah, yang pasti golongan mereka itu terus bertambah dan akan terus bertambah. Ini memang jadi masalah negara yang kompleks. Semestinya kita semua terlibat. Lebih-lebih pemerintah agar serius menanggulangi nasib mereka. Sebab mereka juga bagian dari Indonesia dan mereka juga warga negara Indonesia.
 Para pengamen cilik itu melompat turun. Mungkin akan memburu bis kota lainnya. Di halte ini, lebih banyak penumpang yang turun dari pada yang naik. Lalu seorang wanita separuh baya naik, dan duduk tepat di depan bangku Ganes. Disusul oleh dua orang laki-laki yang berpenampilan cukup rapi. Seorang duduk di sebelah wanita itu dan seorang lagi duduk sebelah kiri Ganes. Tepatnya di bangku dekat pintu belakang. Ganes mengangkat kepalanya, ia hendak melihat ke jalan. Lebih kurang lima menit lagi ia akan sampai ke tujuannya. Ia ingin ke pasar loak yang banyak menjual majalah atau buku-buku bekas di kawasan bawah Jembatan Ampera.
Jembatan kebanggaan warga Kota Palembang yang memotong Sungai Musi. Ganes memang sering ke pasar buku bekas itu. Terkadang ia bisa mendapat buku yang bagus dengan harga murah, untuk melengkapi perpustakaan pribadinya. Belum sampai tiga menit bis kota itu berjalan, tiba-tiba mata Ganes melotot. Jantungnya berdegup kencang. Tak sengaja matanya melihat laki-laki yang berada di sebelah wanita separuh baya itu mengeluarkan sebuah pisau, dan langsung menempelkan ke perut wanita itu. Kontan saja wanita itu gemetaran. Wajahnya memucat seperti kapas. Ganes menyaksikan sebuah aksi penodongan!
“Jangan bertindak macam-macam, kalau ingin selamat. Serahkan dompet dan semua perhiasan yang Ibu pakai,” ancam laki-laki itu berbisik. Wajah penodong itu terlihat tenang dan santai. Mungkin ia sudah biasa melakukannya. Wanita itu terlihat sangat ketakutan, ia menuruti permintaan penodong. Ganes terlihat gelisah. Ingin rasanya ia berteriak memberitahukan semua penumpang. Entah memang tak tahu atau pura-pura tak tahu dengan kejadian itu. Atau mereka takut malah akan jadi korban nantinya. Lalu Ganes mencoba menghitung-hitung jumlah penumpang. Selain penodong, di bis kota itu cuma ada tigabelas orang. Kondektur, sopir, Ganes ditambah empat penumpang perempuan dan enam orang laki-laki. Sementara si Kondektur sibuk berteriak-teriak cari penumpang di pintu depan. Laki-laki yang duduk di sebelah kiri Ganes itu seperti sudah membaca pikirannya. Maka ia pun berbisik…
“Jangan sok jadi pahlawan. Diam saja. Serahkan juga dompetmu!” Ternyata laki-laki disebelah Ganes itu kawanan penodong. Bukan main terkejutnya Ganes. Gagal sudah hitungan-hitungan tentang jumlah penumpang bis kota itu. Penodong ke dua itu menempelkan ujung pisau ke arah lambung Ganes. Darahnya berdesir hebat, antara kemarahan dan ketakutan. Ia juga terlihat gugup dan bingung. Namun otaknya tetap berusaha untuk berpikir jernih.
“Cepat berikan!” bisik penodong itu sambil menekan ujung pisaunya ke lambung Ganes. Tiba-tiba bis kota itu mengerem mendadak, entah mau menaikkan atau menurunkan penumpang. Akibatnya, tubuh para penumpang limbung ke muka. Begitu juga dengan tubuh laki-laki yang sedang menodong Ganes. Mata pisau yang menempel di lambung Ganes berpindah arah ke tempat kosong! Melihat kesempatan itu, Ganes segera menepis tangan penodong itu hingga pisaunya terlepas. Si Penodong tak mengira mendapat serangan pemuda yang ditodongnya tadi. Sebelum pulih kesadarannya, Ganes segera melayangkan tinjunya sekuat tenaga ke arah wajah penodong. Wajah itu terangkat ke belakang. Penodong itu mengaduh kesakitan.
“Penodong…!” pekik Ganes sekeras-kerasnya sambil mendorong tubuh penodong ke arah pintu hingga tubuh penodong jatuh keluar. Akibat menolak tubuh penodong itu, Ganes jatuh setengah terlentang di kursi. Melihat kejadian itu, para penumpang jadi panik dan berteriak-teriak. Lebih-lebih para penumpang wanita. Melihat keadaan temannya begitu, juga suasana bis yang mulai kacau. Penodong yang menodong wanita, berlari ke belakang hendak melompat ke luar. Seraya melancarkan tusukan ke arah perut Ganes—yang masih dalam posisi setengah terlentang. Merasa jiwanya terancam, Ganes makin nekat menangkisnya dengan tangan kanan. Melihat serangannya gagal, penodong itu makin beringas. Tangan kirinya berusaha mencekik leher Ganes, tangan kanan yang memegang pisau terangkat ke atas dan mengayun deras ke arah perut.
Tapi lagi-lagi serangan itu gagal, Ganes bisa menangkis dengan melipat dengkul kirinya. Pemuda itu bergumul mati-matian melawan penodong kalap. Tangan penodong itu kembali terangkat dan menghujam deras ke arah dada Ganes. Para penumpang wanita menjerit-jerit dan ingin berlari turun lewat koridor bis. Beberapa penumpang laki-laki yang hendak menolong Ganes, bertubrukan dengan mereka. Beruntung Ganes masih bisa merapatkan serta menyilangkan kedua tangan. Melindungi dadanya dari tusukan maut itu. Tapi kedua lengan itu terluka dan berdarah. Tangan penodong itu kembali terangkat, tak tahu lagi arah mana yang akan ditusuknya. Bisa saja muka, dada lagi atau perut. Ganes makin tersengal, nafasnya sesak, wajahnya semakin merah dicekik penodong itu. Itulah saat yang paling kritis dan membahayakan!
Tiba-tiba kepala penodong yang menyerang Ganes secara membabi buta itu tersentak ke belakang. Dengan keras! Ternyata wanita yang ditodong tadi telah menarik rambut penodong itu dengan sekuat tenaganya. Dengan sisa tenaganya, kaki kiri Ganes yang terlipat tadi, menendang ke arah dada penodong. Laki-laki itu terpental serta membentur pintu belakang bis kota. Kondektur bis dan beberapa penumpang laki-laki langsung merubungi penodong itu. Menghujaninya pukulan dan tendangan.
Ganes terbatuk-batuk, mulutnya memuntahkan cairan tapi bukan darah. Dadanya sesak dan tenggorokannya terasa sakit. Ia juga merasakan hangat dan perih di lambung, paha kirinya, dan bahu kirinya. Ganes mencoba untuk berdiri, namun tubuhnya terasa lemas. Darah! Ada darah di sekujur tubuh dan pakaiannya. Ia sempat melihat orang-orang memburu ke arahnya seraya meneriakkan kata; luka dan rumah sakit! Tiba-tiba pandangan Ganes jadi kabur, gelap. Gelap sekali. Kemudian ia terkulai, tak ingat apa-apa lagi. Si Gokil jatuh pingsan. [] [end/ Ganezh/ 23/07/2000]


No comments:

Post a Comment