Thursday, February 20, 2014

1st Indonesian Everest 1997 (Bag. 2)


Indonesian Everest Team 1997

Kekecewaan Boukreev
Saat evaluasi, ternyata Boukreev sempat kecewa dengan Apa yang menganjurkan Boukreev terus mendaki sampai puncak dan melihat keadaan. Boukreev menyanggupi, tapi ketika ia menanyakan tali, Apa menjawab, bahwa mereka tak mempunyai tali lagi. “Saya kecewa dengannya. Bagaimana mungkin di ketinggian ini, saya harus mencari tali bekas yang terkubur dibawah salju, untuk kemudian disambung-sambung lagi sebagai tali pengaman utk tim ini. Di sini salju sangat tebal, membuat bahaya yang tak terlihat bisa muncul di mana saja. Apa mengaku, dia menggunakan tali terakhir yang panjangnya 100 meter sebagai pengaman rute yang sebenarnya tak perlu diamankan. Saya tak bisa mengerti dengan tindakannya ini.” Ungkap Boukreev. Apa merasa bersalah, lalu menawarkan diri untuk turun dan mengambil tali. Yang jadi masalah selanjutnya adalah masalah waktu yang berjalan terus, mereka harus terus mendaki atau turun. Apa benar-benar merasa bersalah. Karena kelalaiannya, ekspedisi itu terancam gagal. Apa berusaha keras memperbaikinya. Ia pergi ke depan dan mengamankan rute dengan sisa tali terakhir panjangnya tak lebih dari 40 meter. Tali tua, bekas tali ekspedisi-ekspedisi terdahulu. Selama prose situ Boukreev dan tim beristirahat sejanak untuk memulihkan tenaga.
Mereka Harus Turun!
Misirin berjalan maju, perlahan tanpa pertolongan. Asmujiono bergerak mantap, tapi seperti orang yang sedang bermeditasi. Iwan berjalan pelan, bisa dilihat mentalnya masih kuat, namun kemampuan koordinasinya telah berkurang.
Tampaknya sosok Misirin yang paling mantap, oleh karena itu kami memberinya kesempatan sebagai orang yang pertama mencapai puncak. Tekad dari ketiga orang ini tak terpecahkan, kesempatan mencapai puncak, tak mau mereka sia-siakan
.” Ungkap Boukreev tentang ketiga pendaki Kopassus itu.
Melihat semangat ketiga orang itu, diam-diam batin Boukreev bertanya, “Apa artinya semua ini, bagi orang Indonesia? Bahkan sebagai seorang atlet pendaki, saya tak akan mempertaruhkan nyawa, hanya sekedar untuk sampai ke puncak. Tapi serdadu ini punya prinsip luar biasa. Mereka rela mempertaruhkan nyawa mereka untuk keberhasilan ekspedisi ini.”
Saat Iwan Setiawan berjuang melintasi punggungan, Boukreev terus mengamati fase ini dengan cermat. Mereka terus mendaki perlahan. Setiba di kaki Hillary Step, Boukreev menemukan jasad Bruce Harrods—salah satu korban tragedi Everest 1996—anggota Johannesburg Sunday Times Expedition, Afrika Selatan. Tergeletak dengan tubuh terlilit tali. Crampoon sepatu esnya dalam posisi hendak naik. Wajah pendaki malang itu sudah tak bisa dikenal lagi.
Cuaca di sini memang berat, saya mengenali dia dari jaket biru bulu angsa yang dipakainya. Saya dan semua di tim sangat menyesal karena tak bisa berbuat banyak dengan jasadnya, karena keadaan yang tak memungkinkan, saya menaruh respect pada mendiang. Tapi tugas utama saat ini adalah menjaga “lampu kehidupan” orang-orang Indonesia yang mulai berkedip-kedip. Situasi yang kami hadapi juga tak kalah berbahaya.
Boukreev mulai mengkhawatirkan persediaan tenaga para pendaki Indonesia. Karena mereka juga butuh tenaga saat turun nanti. Meski puncak hanya tinggal kurang lebih 100 meter lagi. “Demi keselamatan, saya berkata pada Iwan dan Asmujiono. Menasehati mereka agar berbalik, dan turun. Sekali lagi mereka menolak mentah-mentah!” Tak ada pilihan lain, mereka semua terus naik menuju puncak. Boukreev menyusul ke depan sampai 30 meter dari puncak. Di sana, Boukreev menemui Apa dan Darwa. Mendiskusikan kondisi keadaan Iwan dan Asmujiono yang sudah berjalan seperti robot, meski dalam keadaan konsentrasi penuh ke arah puncak. “Saya ingin mereka turun, selagi mereka masih kuat dan sanggup!” Jelas Boukreev pada kedua sherpa itu.

Pratu Asmujiono di Puncak Everest
Sang Saka Merah Putih Di Puncak Everest!
Ketika Boukreev sampai di puncak, ia disusul Misirin dan Bashkirov dengan jarak 30 meter di belakangnya. Boukreev melihat Misirin jatuh di atas salju. Tiba-tiba muncul Asmujiono, setengah berlari melewati Misirin yang masih tergeletak di salju. Dengan pandangan mata yang selalu menancap ke Puncak Everest, Asmujiono berlari kecil seperti dibawah sadar, dengan gaya slow motion menuju tiang berkaki tiga yang dipenuhi bendera tanda sebagai Puncak Everest. Tepat pada pukul 15.30, 26 April 1997, Asmujiono meneriakkan kalimat takbir sambil menangis. Air mata yang keluar langsung membeku. Ia memeluk erat tripod penanda puncak Everest. Lalu mengibarkan Sang Saka Merah Putih, serta menyanyikan lagu Padamu Negeri, mengabaikan perintah Boukreev yang menyuruhnya turun.
Dia menyingkirkan semua apa yang ada kepalanya, dan langsung memakai Baret Merah ke kepalanya, terus mengambil bendera. Mengibarkan bendera Merah Putih di Puncak Everest. Rasa takjub luar biasa mendera saya. Kejadian seperti yang barusan saya lihat ini, sungguh tak pernah saya alami.” Ungkap Boukreev merasa kagum. Ketika Boukreev memotretnya, Asmujiono membuka masker oksigennya! Konon ini mengakibatkan ia mengalami sakit di kemudian hari.
Meskipun tak sempat menyentuh tripod, Misirin dianggap telah mencapai puncak dan berhak memperoleh sertifikat sebagai Everest Summiter. Bagi Indonesia dan Asia Tenggara, Asmujiono dan Misirin merupakan orang pertama dan kedua yang bisa mencapai tempat itu. Dan terdaftar di buku katalog Everest Summiter, tercatat pada urutan ke-662 dan 663.
Saat itu, menurut Boukreev itu sudah sangat terlambat. Bashkirov juga sampai di puncak. Boukreev memerintahkan Apa untuk turun dari puncak untuk membangun tenda di Camp 5. Mereka berada di puncak tak lebih dari 10 menit. Vinogradski hanya beberapa meter dari tripod penanda puncak, ketika Boukreev memerintahkan semuanya untuk turun. Evgeni berbalik dan pergi mencari Iwan, yang berada 80 meter dari puncak. Boukreev menghampiri Misirin yang berada 30 meter dari puncak. Masih tergeletak di atas salju. Boukreev jongkok di sampingnya. “… saya berkata padanya, bahwa kita telah sampai di puncak. Saya kaget, ketika tiba-tiba dia berdiri dan berjalan untuk turun.” Ungkap Boukreev.  
Seratus meter di bawah puncak—saat bergerak turun—Boukreev bertemu dengan Evgeni dan Iwan. Dengan perasaan sedih, Boukreev memerintahkan prajurit yang tinggal beberapa meter dari puncak ini untuk segera turun,”… tapi saya terpaksa keras demi keselamatan diri mereka sendiri, karena setiap menit sangat berharga. Kalau kami tak berhasil turun di bawah sinar matahari, rencana yang telah disusun akan berantakan.
Setelah bersusah payah memanfaatkan tali-tali bekas dan tua yang telah di pasang Apa, mereka menyelusuri jalan turun. Tali-tali dipasang dengan cara diputus-putus untuk melewati punggungan gunung. Boukreev turun yang paling akhir, Dawa sudah menunggu di Puncak Selatan. Saat menuruni Puncak Selatan, Misirin terjatuh berkali-kali, tapi berdiri kembali dan terus turun. Iwan, yang memakai tabung zat asam dari Evgeni, tiba-tiba terlepas dari tali penyelamatnya, dan merosot ke bawah. Jika Evgeni tak buru-buru memegang dan mengikatkannya kembali ke tali pengaman, tentu ia akan ditelan jurang menganga dengan kedalaman ratusan meter. Sementara Asmujiono tampak bergerak lincah turun bersama para sherpa.

Drama Di Malam Hari
Istilah the Dramatic Night diungkapkan oleh Bashkirov, karena mereka harus bertahan di emergency camp di ketinggian 8.000-an. Strategi tim Indonesia memang telah mempertimbangkan hal terburuk sekalipun. Berbeda dengan tim ekspedisi lain―yang akan langsung turun ke Camp IV setelah mencapai puncak― tapi tim Indonesia menyiapkan emergency camp di ketinggian 8.500 meter.
Sejak awal memang telah diperkirakan bahwa mereka tak akan mampu turun langsung ke Camp IV. Meski tepat, tapi keputusan untuk bermalam di ketinggian 8.500 meter, merupakan hal baru yang dianggap gila dan tidak masuk akal. Apa lagi hanya dimodali oleh dua tabung oksigen! Yang akan habis sebelum pagi tiba. Tabung itu digunakan bergiliran oleh Asmujiono, Misirin dan Iwan Setiawan. Melihat kondisi mereka yang demikian menderita, para pelatih rela tak menggunakannya.
Evgeni sepanjang malam memasak air, dan selama itu juga saya dan Bashkirov bergantian menggilir zat asam untuk orang Indonesia yang sudah kelelahan. Sepanjang malam! Karena kami harus berhemat, supaya oksigennya cukup untuk melewati malam ini. Kalau seorang dari mereka agak kelamaan menunggu pembagiannya, mereka mulai menjerit-jerit dan berdoa. Kami bertiga bekerja sekuat tenaga, nyaris tak mampu berkata sepatah kata pun malam itu.” Lalu keaadan mulai stabil. Atas kehendak Tuhan, mereka memang mampu bertahan hidup di malam yang hampir mustahil dilalui itu. Banyak pendaki-pendaki lain beranggapan bahwa mereka tidak akan pernah kembali lagi. Ternyata pendapat mereka salah besar!
Boukreev sempat menyelesaikan urusan pribadi yang masih menggantungi hatinya. “Di ketinggian 8.400 meter, saya melihat-lihat, kalau-kalau bertemu jasad Scott Fischer, walau kemarin sudah mencoba mencarinya dengan sia-sia. Sekarang saya melihat dia. Saya tidak menemuinya kemarin, mungkin karena hari sudah gelap, padahal dia tergeletak kira-kira hanya 30 meter dari posisi kami. Saya harap “misi” saya untuk Jeanie, istri Scott, bisa terpenuhi. Bendera yang penuh tulisan dari istri Scot dan teman-temannya, saya letakkan disana. Walaupun sebenarnya saya ingin membalutnya dengan bendera itu, tapi karena waktu yang mendesak dan juga tanggung jawab saya pada ekspedisi ini, maka saya hanya melakukan janji saya yang terpenting dan sangat menyedihkan ini saja. Dengan dibantu oleh Evgeni, saya menguburkan Scott dengan salju dan batu-batu. Saya tandai dengan gagang linggis yang kami temui disekitar tempat itu. Evgeni dan saya sampai di Sadel Selatan tengah hari.” Ungkap Boukreev saat menemui jasad Scott Fischer, salah satu pendaki terbaik dari Amerika Serikat.
Saat mereka turun menuju base camp, dan tiba di sana pada tanggal 30 April 1997, putra-putra Indonesia yang memulai pendakian dalam bayang-bayang kesangsian dan cibiran itu, kini disambut meriah bak pahlawan yang baru saja memenangkan peperangan. Beberapa surat kabar terkenal di Nepal―seperti juga koran-koran di Indonesia―beramai-ramai memberitakan keberhasilan mereka. Mitos bahwa manusia-manusia tropis yang tak berpengalaman mendaki gunung es tak akan mencapai puncak Everest itu telah hancur di tangan para pendaki Indonesia.
Misirin, Iwan, Asmujiono, Apa, Dawa, Bashkirov, Evgeni dan saya turun gunung dan bergembira. Kami berhasil. Banyak hal kecil yang terjadi menghiasi keberhasilan kami. Nasib baik jelas berpihak pada kami. Ekspedisi Indonesia telah selesai, tanpa meninggalkan kesedihan di hati saya.” Ungkap Boukreev lega dan bangga. Ia berhasil mengantar manusia-manusia Indonesia, manusia-manusia tropis yang berhasil menjejaki puncak tertinggi di muka bumi ini.

Kepergian Sang Heroik
Kebahagiaan itu bertukar kesedihan bagi tim Indonesian Everest 1997, karena beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Tanggal 25 Desember 1997, dunia petualangan harus kehilangan Boukreev Boukreev yang dikabarkan tewas kecelakaan avalanche tertimbun ribuan kubik es, salju dan batu serta terseret hingga ratusan jurang vertikal ke bawah tebing di dinding barat Anapurnna I di ketinggian 5.700 meter, ketika sedang mem-belaye Simone Morro, pendaki Italia. Sebelum kecelakaan itu terjadi tanggal 23 Desember 1997, Simone telah terkena frostbite jari kaki dan tangannya, kemudian luka bakar akibat gesekan tali ketika terseret longsoran avalanche itu. 
Tanggal 2 januari 1998, lima orang tim rescue dari Army Sport Club Rusia—Boukreev termasuk anggotanya—yang dipimpin oleh Rinat. K. Juga termasuk pacar Boukreev, Linda Wylie, mencoba melakukan pencarian jasad Boukreev ke lokasi kecelakaan itu. Selama dua pekan usaha pencarian itu tetap tidak membuahkan hasil. Ternyata jasad the Ghost of Everest itu tak pernah diketemukan lagi, menyusul rekan-rekannya, Scott Fischer, Rob Hall dan Vladimir Baskirov, tewas di Puncak Tengah Lhotse pada tahun 1997. [Ganezh/2014]


2 comments:

  1. mantap....kisah yang sangat membanggakan,,,harusnya di tulis yang prajurit asmujiono adzan di puncak everest

    ReplyDelete