Monday, February 3, 2014

Setangkai Edelweiss Lawu [Bagian 2]

Akhirnya setelah melewati perjalanan yang cukup berat dan melelahkan. Mereka sampai di puncak gunung Lawu. Begitu agung ciptaan-Mu, Tuhan! Terdengar decak kekaguman dari mulut-mulut mereka. Adhie mengumandangkan adzan. Pertanda mereka telah sampai di puncak  dengan selamat. Tebaran edelweis Lawu di ujung sana membentuk permadani alam yang menakjubkan. Setelah mendapatkan tempat yang strategis. Mereka mulai terlihat sibuk. Mendirikan tenda dan segala sesuatunya. Menjelang sore, mereka duduk bersantai sambil menunggu sunset gunung Lawu. Betapa indah sunset yang memendarkan warna merah jingga keemasan itu. Tak lupa mereka mengabadikannya. Ganes sepertinya kurang tertarik. Pandangannya hanya tertuju pada tebaran edelweiss-edelweiss itu. Ah, edelwieiss Lawu.
Gue jadi inget kembali dengan syarat itu. Maapin gue, Ra. Gue nggak sanggup mengusik kedamaian mereka. Gue nggak bisa memenuhi syarat yang kamu ajukan itu. Gue cuma bisa memberi foto-foto senyum polos mereka, yang seakan berkata, “Jangan ganggu kedamaian kami. Jangan renggut kehidupan kami!” Bila perlu gue cetak ukuran poster. Buat kamu, Ra. Gue nggak tahu. Apakah lo mau menerimanya.  Gumamnya dalam hati. []
Malamnya, mereka berkumpul mengelilingi api unggun. Kecuali Ganes yang lagi asyik mendengarkan walkman. Menikmati kaset instrumen favoritnya, Kitaro. Dia tampak terhanyut oleh lagu-lagu lembutnya yang mendayu-dayu.
“Gar, si Gokil lagi ngapain, sih?”  tanya Beben heran melihat Ganes jadi pendiem dadakan begitu.
“Lagi asyik mendengarkan walkman-nya!” jawab Togar.
“Iya, Gar. Kayaknya si Gokil laen banget kali ini. Apa lagi ada masalah?” tanya Adhie pula. Togar menghirup kopi hangatnya, lalu...
“Kalian tenang saja. Kalau sampai besok dia masih begitu. Sama-sama kita tanyakan apa yang jadi masalahnya, oke?” Yang lain pun setuju. Tak lama kemudian Ganes ke luar dan bergabung dengan mereka. Menikmati kopi hangat dan biskuit. Ikut menghangatkan badan, mengelilingi api unggun yang bergejolak riang.
“Eh, kalian percaya nggak? Sebelum berangkat kemarin. Devi meminta bandana gue. Katanya sih, buat obat kangen!” Acep membuka ceritanya tentang doinya, Devi. Kebahagiaan terbias di wajahnya.
“Mau-maunya dia sama bandana yang bau plus butut begitu, Cep!” timpal Beben menanggapinya.
“Biarin, Devi kan pacar gue!” jawabnya bangga.
“Kalau Emi ngasih kau apa, Ben?” tanya Togar kepada Beben.
“Emi nggak ngasih apa-apa, kok!”
“Jadi?” tanya yang lain hampir bareng.
“Selama perpisahan ini, kami cuma tukeran jam tangan. Biar kalo lagi ngeliat jam, kita-kita saling terbayang!” kata Beben sambil menunjukkan tangannya. Mereka tertawa melihat kejanggalannya. Tangan Beben besar berotot tapi memakai jam Emi yang imut banget.
“Emi pasti kerepotan, memakai jam elo yang segede jam dinding itu!” kata Adhie tertawa.
“Biarin! Biar tambah, m e s r a ...!” kata Beben bergaya bencong yang menel alias ganjen banget. Mereka tertawa cekikikan.
“Nah, kalo elo dikasih apa, Gar?” tanya Ganes kepada Togar yang masih cengengesan. Togar merapatkan jaketnya.
“Sebatang coklat.” jawabnya santai.
“Sebatang coklat? Mana, Gar?” tanya Adhie penuh nafsu.
“Kok ngasih coklat, kesannya apa. Kurang romantis, ah!” ujar Acep mendengar jawaban Togar tadi.
“Coklatnya udah elo makan belon, Gar? Bagi gue, dong...” pinta Adhie penuh harap. Togar cuma menarik alis melihatnya.
“Iya, nih! Kalo udah dimakan. Jadi deh, kotoran!” ujar Beben serius. Mendengar pendapat rekan-rekannya itu.
“Kalianlah yang tak punya rasa romantis sehebat Noer-ku itu!”
Edew, segitu bangganya. Apa coba kehebatannya?" tanya Adhie penasaran.
“Begini... kalian dengar, ya. Sebelum berangkat Noer membelikan aku sebatang coklat. Katanya coklat ini tidak boleh aku makan dari berangkat hingga pulang nanti.”
“Lho kok, gitu? Buat gantungan ransel?” potong Ganes keheranan.
“Jidat kaulah! Masak buat gantungan ransel. Makanya jangan potong omonganku dulu. Coklat itu tidak boleh aku makan, karena kami akan memakannya bareng di sekretariat kita. Sepulang pendakian ini nanti. Kalian kan tahu, kalau aku ini maniak coklat. Coba kalian bayangin betapa kepinginnya aku makan coklat itu,” kata Togar dengan muka setengah nelangsa. Lucu banget mimik wajahnya. Mereka jadi kasihan melihatnya.
“Bego amat si, Gar. Kalo udah dimakan, ntar kan bisa diganti?” kata Beben serius. Kemudian disusul ide busuk si Acep...
“Betul, Gar. Kita makan aja. Nanti kita beliin gantinya.” Mendengar itu dia menggeleng, tak setuju.
“Nah, di sini intinya. Katanya dia ingin tahu. Apakah aku bisa pegang janji apa tidak. Baik janji kami berdua. Maupun janjiku pada diri sendiri. Memang aku bisa memakan lalu menggantinya. Tapi kalau gitu, artinya aku sudah ingkar janji dan membohongi diri sendiri. Jadi, bagaimana pun bentuk coklat itu nanti, akan makan kami berdua di sekretariat kita,” kata Togar dengan bangga.
“Wah, wah, hebat, Gar. Emang kelihatannya lucu. Namun makna yang tersirat di dalamnya romantis banget!” Ganes memujinya. Dasar! Kalo lagi pada kasmaran. Segala sesuatunya selalu dinilai dari segi keromantisan.
Sorry guys! Gue sedang nggak punya kisah romantis yang baru.” kata Adhie pelan. Dia baru pisahan dengan Nana, pacarnya. Yang lain merasa tidak enak mendengarnya. Melihat wajah temannya begitu, buru-buru dia berkata...
“Sekarang giliran elo, Nes!” katanya sambil tersenyum. Wah, rasanya cuma gue yang ketiban sial. Rara tak memberi apa-apa. Kecuali syarat mautnya itu. Gumam Ganes dalam hati.
“Ayo, Nes.  Rara ngasih elo apa?” tanya Acep penasaran. Aduh! Gue mau ngomong apa? Apa musti diceritain persyaratan Rara itu? Dia mulai kebingungan. Terpaksa...
“Gue nggak dikasih apa-apa oleh Rara. Tapi kalian bakal ngiri kalo mendengar ceritanya,” jawabnya sambil menuang kopi ke dalam gelas. Terpaksa gue berbohong. Maafin gue, Tuhan!
“Apa sih, Nes. Bertele-tele betul kau?” tanya Togar nggak sabaran.
“Gue di beri Rara sunpikaki!
“Sunpikaki? Makanan Jepang ya, Nes?” tanya Adhie tidak mengerti.
“Bukan!”
“Lalu apa?”
Sunpikaki adalah sun pipi kanan kiri!” Dia mengambil salah satu kata istilah yang dipake Anis, adiknya. Kemudian dia tertawa. Tawa yang membikin sesak dadanya. Sorry guys. Gue terpaksa bohong.
“Wah, gila banget, Nes!” Pekik mereka ngiri kemudian ikut tertawa lepas. Jam telah menunjukkan pukul setengah satu malam. Ketika mulai terasa mengantuk, mereka pun beranjak tidur. Dalam waktu yang singkat mereka sudah nyungsep dalam sleeping bagnya masing-masing. Beberapa saat saja, sudah terdengar dengkuran Togar. Suaranya mirip gergaji tumpul. Hanya Ganes yang belum bisa memejamkan matanya. Dia merasa bersalah. Telah membohongi teman-temannya. Belum lagi kalau inget dengan syaratnya Rara itu. Gue terpaksa berbohong gara-gara syaratnya kamu itu, Ra! Gue heran. Kenapa kamu minta bunga edelweis. Kenapa baru sekarang dan tiba-tiba sekali? Memang kata orang bunga edelweis adalah bunga cinta abadi anak-anak pecinta alam yang lagi kasmaran. Gue jadi pusing! Akhirnya Ganes tertidur juga, dibuai oleh suntuknya sendiri. 
Ganes sudah berada di atas batu segede dinosaurus yang lagi berguncang hebat. Tubuhnya limbung lalu jatuh terbanting. Mulutnya berdarah. Beberapa giginya patah. Dia merintih kesakitan, tersentak dan terbangun. Oh, mimpi gue serem banget. Kata orang, mimpi gigi patah pertanda buruk. Tapi moga-moga mitos itu salah. Gue nggak mau tambah pusing. Gue mau tidur. Mau tiduuur! Batinnya menjerit.
Keesokan harinya mereka bangun kesiangan. Sunrise yang diharapkan cuma tinggal sisa-sisanya saja. Padahal hari itu cerah banget. Mereka berkeliling mengabadikan keindahan puncak gunung Lawu. Mereka hanya dua malam berada dipuncak. Pagi esoknya mereka pun beranjak pulang. Selama perjalanan pulang perasaan Ganes tetap merasa tidak enak. Gelisah sampai meninggalkan gerbang Cemoro Kandang. Selamat tinggal Lawu. Selamat tinggal edelweis Lawu. Nantikanlah kami para pecinta alam. Yang akan selalu menyapa mu. Selalu merindukan mu. []
Sekitar jam dua siang, mereka tiba di Palembang. Di terminal itu sudah menunggu rekan-rekan mereka. Para bidadari tim pendakian Lawu juga sudah menunggu. Senyum dan sapa akrab tertumpah di sana. Semua melepaskan rindu. Menantikan segumpal cerita pendakian lalu. Ganes celingukan mencari-cari seseorang. Dia mencari Rara. Dona juga belum terlihat batang hidungnya. Ganes bertanya pada teman-temannya yang lain. Namun semuanya menggeleng tidak tahu. Tiba-tiba mobil Dona muncul. Ganes langsung memburu ke arahnya.
“Na, mana Rara. Kok nggak bareng elo?” tanyanya dengan muka heran. Eh, wajah si Tomboy ini terlihat sendu banget? Dengan lesu Dona menyalaminya. Kemudian berkata pelan...
“Rara berhalangan, Nes. Yuk, kita temuin dia.”  Ganes berusaha menyelami wajah sendu itu. Hatinya bertambah tidak enak dan bertanya-tanya. Dona menarik tangannya. Bukan Ganes saja yang keheranan. Semua yang hadir di situ juga heran melihat tingkah Dona yang tidak seperti biasanya itu. Setelah mereka berada di dalam mobil.
“Hei...Na. Mau kemana?!” tanya Noeri.
“Iya! Mau kemana? Sekarang kan ada acara penyambutan!”
Sorry, Gar, Noer. Ini penting banget.”
“Iya, tapi ke mana?” potong Togar cepat. Ganes pun mulai tampak kesal.
“Iya nih, si Donna! Ada apa, sih?!” dengusnya kesal.
“Kita ke ‘Hoesin’ Gar. Ajak yang laen!” Tanpa menunggu jawaban Togar, Donna langsung tancap gas. Mobil itu melaju kencang. Meninggalkan mereka yang masih kebingungan.
“Ke Hoesin? Ngapain kita ke rumah sakit. Ngomong yang jelas dikit kenapa sih, Na!” bentak Ganes kesal bercampur cemas. Dia takut membayangkan apa yang terlintas di otaknya.
“Rara, Nes. Dia kecelakaan...,” jawab Donna lirih. Bagai petir yang menggelegar telinga Ganes.
“Rara… k e c e l a k a a n…” gumam Ganes tak sadar. Mengulangi kata-kata Donna barusan. Tubuhnya lemas serasa tak bertulang lagi. Hatinya sedih, kesal dan bingung menjadi satu. Mengapa ini mesti terjadi Tuhan. Mengapa mesti Rara yang mengalaminya. []
Mereka langsung berlari menuju ke ruang ICU. Tempat Rara dirawat. Orang tua dan saudara-saudara Rara sudah berkumpul. Beberapa teman Rara dari SMUN 555 juga hadir di sana. Ganes menyusul langkah Dona, masuk  dengan langkah perlahan. Semua mata tertuju ke arahnya. Mungkin karena dia masih mengenakan pakaian Wanacala. Lengkap dengan segala atributnya. Tampak lusuh dan dekil lagi. Mama Rara masih terisak, sambil memeluk Kiki. Tiba-tiba Kiki berlari ke arah Ganes.
“Bang Ganes! Mbak Rara sakit!” Dia memeluknya. Ganes mengusap lembut kepala Kiki tanpa mampu berkata-kata. Matanya terasa panas. Suasana haru  menyelimuti tempat itu.
“Ganes, kan?” Papa Rara menyapa sambil memegang pundaknya. Ganes menyalaminya.
     “Om tahu hubungan kalian. Rara sering cerita tentang kamu. Om tidak sempat menjemputnya. Karena ada rapat kantor yang mendadak. Lalu Rara pulang naik taksi. Dan… akhirnya... tabrakan dengan truk yang ngebut itu. Sopir taksi dan truk itu tewas seketika. Sementara Rara masih koma... Sekarang sedang menjalani operasi.” Ucap Papa Rara lirih. Ganes bungkam tak bersuara. Ia hanya bisa mengangguk lemah. Ya, Tuhan selamatkanlah Rara. Sembuhkanlah dia. Gue mohon kepada-Mu, Tuhan. Pintanya dalam hati. Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka. Dokter yang mengepalai operasi itu keluar menemui keluarga Rara. Dia berkata lirih.
“Maafkan... Kami telah berusaha keras,” katanya dengan hati-hati. Tanpa menunggu perkataan dokter itu selanjutnya, mama Rara berteriak histeris.
“Tidaaak! Raraaa! Jangaaan!” Suami dan keluarganya sibuk menenangkannya. Innalillahi wainnaillahi rozi’un. Hampir semua wanita yang hadir di situ menangis. Ganes bengong. Mengharap semua ini hanya mimpi. Dia  menggigit bibir dan matanya tambah panas. Matanya basah. Rara telah pergi menghadap-Nya. Pergi meninggalkan semuanya. Rupanya ini yang selalu membikin perasaan gue tidak tenang. Mungkin juga arti dari mimpi gue kemarin atau... tentang permintaan Rara yang aneh itu. Andai gue tahu itu permintaan lo yang terakhir. Akan gue petik edelweis Lawu sebanyak mungikn! Bukan hanya setangkai seperti yang elo pinta, Ra! Persetan kelestarian! Persetan dengan pecinta alam! Asal gue bisa memenuhi permintaan lo yang terakhir itu, Ra. Gue emang jahat! Gue ingkar janji! Gue yang.... Belum sempat Ganes meneruskan kata-kata yang bergejolak dalam hatinya. Terasa ada yang menyentuh bahunya dengan lembut. Dia menoleh. Rekan-rekan dari Wanacala telah hadir pula di situ.
“Gar... Rara pergi, ninggalin kita. Ninggalin gue, Gar...” kata Ganes lirih banget sambil memeluk Togar erat. Akhirnya dia menangis.
“Sudahlah, Nes... Tabahkan hati kau. Relakan dia pergi. Kita doakan, semoga Rara tenang dan diterima baik di sisi-Nya,” ucap Togar dengan lembut berniat menyejukkan hatinya. []
Tiga hari setelah Rara meninggal. Ganes tampak termenung di kamarnya. Mengenang kembali saat-saat perama kali mereka bertemu. Pada malam persami yang diadakan oleh anggota Wanacala SMUN 2000 setahun yang lalu. Mengingat semua kenangan suka duka yang pernah mereka lalui berdua. Ingat waktu Rara ngambek, gara-gara dicuekin tempo hari. Ingat saat dia menggenggam jemari dan mencubit lesung pipitnya saat melepas keberangkatannya ke Lawu tempo hari. Tapi yang paling mengganggu fikirannya adalah hutang janji. Janji untuk membawakan Rara setangkai edelweis Lawu. Sebagai persyaratan damai mereka itu. Selagi merenungi kesedihannya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk pelan.
“Nes... ada Dona, tuh!” panggil ibunya memberitahukan. Dengan malas Ganes membukanya.
“Aduuh. Segitu kusutnya... Buruan pake baju. Temuin dia,” kata Ibu begitu melihat keadaan Ganes yang super kusut begitu. Dona datang sendirian. Ganes menyapanya hambar.
“Nes, ini ada kaset rekaman Rara. Kayaknya belum sempat dia berikan ke elo. Kaset itu gue temukan di laci meja belajarnya. Elo nggak usah khawatir. Belum gue denger, kok,” kata Dona sambil memberikan kaset bersampul biru itu. Warna kesukaan Ganes. Mereka memang biasa saling memberi kaset rekaman suara. Biasanya pada hari-hari spesial mereka berdua.
“Makasih ya, Na.”
“He-eh. Elo jangan bersedih terus, ya. Kita semua sayang Rara. Doakan dan relakanlah dia pergi. Jangan sampai kita memberatinya. Dengan kesedihan yang berkepanjangan. Ngg... entar malam datang kan, Nes?” kata Doa pelan.
“Iya, Na. Gue pasti datang dengan ama yang lain.”
“Keluarga elo juga, jangan lupa...” kata Donna mengingatkan. Ganes mengangguk. Tak lama kemudian Donna pamitan pulang.
“Iya, Na. Makasih.”
Dengan dada berdebar dia membuka sampul kaset itu. Lalu menghidupkan tapedecknya. Di covernya ada nama Ganes dari tulisan tangan Rara. Hening. Kemudian terdengar desis pita kaset kosong. Kemudian terdengar suara Rara yang lembut.  
”Dearest Ganes, lagi ngapain? Yang pasti lagi ngedengerin kaset ini, ya? Rekaman ini Rara buat sehari setelah keberangkatan elo ke Lawu.."
Hening sesaat... 

"Nes... maafin Rara, ya. Rara nyesel udah maksain lo, bawain edelweiss Lawu. Rara  yakin itu berat buat elo. Rara tau, elo itu pecinta alam  yang baek, dan Rara juga yakin pasti Ganes nggak bawakin kan?"
Mendengar itu batin Ganes terasa pedih. Jantungnya kian berdebar.
"Tapi, Nes... lo jangan ngerasa bersalah, kalo nggak ngebawainnya. Rara sadar kalo itu salah. Jadi Rara nggak nuntut lagi, deh! Dan kalo emang benar gitu, Rara tambah sayang ama Ganes. Karena lo anak yang teguh pendirian. Nggak dan munafik. Nes... denger ya, ini bukannya Rara mau nguji kepribadian elo. Rara udah tau gimana kepribadian elo. Udah dulu ya. Maafin semua kesalahan Rara. Sayang Rara yang banyaaak banget buat Ganes seorang. Your babe, Rara, Mmmuuach... Sssssssss...
Suara pita kaset kosong terdengar kembali. Ganes terdiam dan terharu. Mulut dan hatinya tak mampu berkata-kata lagi. Setelah mendengar kaset yang dibuat Rara untuknya. Suasana makin hening. Makin sepi... [end/ganezh] Oktober’94 

6 comments:

  1. Replies
    1. Makasih Nana, makasih udah menyempatkan baca :D

      Delete
  2. dulu cuma dengar dari teman, setelah 14 tahun ahirnya bisa baca juga...........

    #Nice_story

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Johan, makasih sdh mampir :)

      Delete
  3. " Bang...sy mau dönk novel2'a...maaf bisa beli d mana ya..?

    ReplyDelete
  4. Novelnya udh gak dicetak lg, Nano. Maka abang share lewat blog ini. Makasih udh baca ya 😄

    ReplyDelete