Saturday, January 25, 2014

Jejak Sang Beruang Gunung


 Genre     : Biografi Tokoh Petualang
 ISBN      : 979-763-190-7Author: Ganezh
 Penerbit: Andi Offset - Jogjakarta
 Dimensi : 12 x 19cm, 298 hlm
 Cetakan : I (2006), Cetakan II (2007)


Gua akan terus berjalan dan lo masih tertarik, 
lo pasti akan senang mendengar cerita-cerita gua.  
Karena gua sering cerita,  orang-orang akan merasa akrab dan tiba saatnya gua mati, gantian orang-orang yang akan cerita tentang gua!
(Norman Edwin)

SINOPSIS:
Siang itu, 20 Maret 1992, langit tampak mendung serta angin beku berhembus. Di hamparan salju putih Aconcagua, di ketinggian 6.700 mdpl. Tampak sosok tubuh tinggi besar berambut gondrong, sedang berjuang melintasi tanjakan kemiringan 40 derajat. Tak lain itu sosok Norman Edwin, sang Beruang Gunung Indonesia yang berambisi mendaki Puncak Tujuh Benua. Sekali lagi, kapas esnya menghujami salju beku. Lalu merayap, dan bertumpu di ujung kapak es yang membenami salju. Sementara kebekuan dan keletihan terus mendera. Sengatan nyeri frostbite di ruas jari tengah beberapa hari lalu terus menyiksa. Namun tekadnya sudah bulat. Ingin mengibarkan Merah Putih dan panji Mapala UI di puncak tertinggi Amerika Selatan itu. "Ya, puncak Aconcagua tinggal 200 meter lagi!" Semangatnya dalam hati.
Tarikan nafasnya kembali memburu. Semangatnya terus membara. Namun gerak tubuhnya kian perlahan. Ayunan lengan kanannya tak segarang kemarin. Makin lemah. Keletihan membungkam semangatnya. Rasa kantuk pun mulai terasa. Norman sadar hipoksia itu ancaman. Ia tersentak, berusaha menjaga sadar dengan mengayunkan kapak es. Namun letih dan kantuk itu makin menghebat. Ia hanya butuh istirahat sejenak. Agar tak melorot ke bawah, tangan kirinya berusaha mencengkeram bongkah salju yang beku. Lalu tubuh itu pun terdiam.

Puncak itu sudah dekat, serasa terus memanggil-manggilnya. Sekilas ia teringat Didiek Samsu—yang letih dan beristirahat—tak jauh di bawahnya. Lalu ia tarbayang wajah mungil, Melati, anaknya. Karina, isterinya. Wajah-wajah keluarga yang dicintainya. Terbayang pula wajah para sahabatnya yang menyuruhnya kembali. Ia meringis, “Aku butuh istirahat sejenak, karena sebentar lagi kugapai puncak!” Gumamnya. Ya, ia cuma butuh istirahat sebentar, lalu segera mencium puncak. Namun rasa letih dan kantuk kian membius. Tubuh besar itu masih diam tak bergerak. 

Butir salju berterbangan dihembusan angin beku. Menerpa wajahnya, rambutnya dan menutupi sebagian jaket dan celana biru yang dikenakannya. Suasana semakin hening. Sepi. Sayup deru angin beku menyelimuti seluruh kawasan Puncak Aconcagua…


foto koleksi Mapala UI
SANG BERUANG GUNUNG
Dia Petualang Sejati…
Menjelajahi perut bumi…
Menciumi puncak-puncak bumi…
Mengarungi laut samudera…
Mencumbui jeram-jeram ganas…
Merayapi tebing-tebing cadas…
Jejaknya ditoreh di berbagai belahan benua, Amerika,
Asia, Afrika, Australia, Eropa, hingga Alaska.

Dia Wartawan Alam…
Tajam dalam mengendus berita…
Lugas, tegas, jujur dan apik dalam tulisan…
Dikagumi banyak orang…
Disegani para ‘dedengkot alam’ Indonesia…

Dia sang idola.
Seven Summits adalah obsesinya…
Mengibarkan Merah Putih di Puncak Tujuh Benua…
Carstensz Pyramid, McKinley, Elbrus, Kilimanjaro, Aconcagua dijejakinya…
Namun kendala tetap saja ada. Dia harus mundur,
hingga akhirnya terhenti di kebekuan ‘Gunung Setan’ Aconcagua…
Puncak yang ke lima.

Dialah sang Beruang Gunung…
Vinson Massif dan Everest terdiam merindukan jejaknya…
Para petualang merindukan celotehnya…
Namun jejak memang telah ia tinggalkan…
Berpenggal kenangan ia berikan…
Sosok tegarnya membekas dalam sejarah petualangan Indonesia…
Dialah Norman Edwin.

Ada haru, ada bangga, juga bahagia…
Ada tawa, ada canda, sedih, tangis, juga duka…
Ikuti kisah hidup serta petualangannya di dalam buku:
JEJAK SANG BERUANG GUNUNG, NORMAN EDWIN  

By: Ganezh [2002]

1 comment: