Wednesday, January 29, 2014

Kepada Beruang - Samson



Norman Edwin dan Didiek Samsu

Tentang Mereka…
Tak kugubris pernah atau tak pernah
Merenda asa dan bernyanyi di tebing cadas
Mencium puncak dan menyapu riaknya jeram
Merambah kelam perut bumi
Atau bahkan, umbar celoteh dengan mereka
Tapi, aku tahu…
Tentang si Beruang Gunung, Norman Edwin
Tentang si Samson, Didiek Samsu
Semua kubaca karya dan tentang mereka
Tentang suka duka kala mencumbui bebasnya alam
Kini, tak kan ada lagi tembang celoteh mereka
Mereka ‘tlah direngkuh dalam peluk-Nya, di kebekuan Aconcagua
Aku sedih, semua berduka, kami pun berdoa
Tertunduk mengiring kepergian mereka
Semoga di sisi-Nya, mereka damai tenang
Semangat dan jiwa kebersamaan tetaplah kenangan
Tak pudar bagai putih salju di puncak abadi
Aku, kami yang tertinggal, kan selalu berusaha, tetap kibarkan panji kita,
Panji Pecinta Alam…
[Palembang 2002, Ganezh]

Tuesday, January 28, 2014

Mendakilah TAPI JANGAN Cari MATI

foto from Google
Mendaki gunung itu memang menyenangkan, tapi kalau ”banyak yang mati” itu sangat menyedihkan. Demam mendaki ramai lagi di kalangan anak muda sekarang. Entah sekedar ikut trend atau memang panggilan hati. Kini semua orang bisa mendaki gunung, tapi [sayang] tak semuanya bisa pulang dengan selamat.
Jangan jejali otak kita dengan pendapat subyektif orang yang ngawur tentang sebuah gunung. Ingatlah! Mereka beruntung tapi belum tentu dengan kita. Mereka merasa gampang mendakinya, tapi belum tentu dengan kita. Sebab kita memang punya pengetahuan dan persiapan yang berbeda, sekaligus takdir masing-masing. Jangan termakan istilah,”gunung mudah, gunung wisata, gunung pendek, anak kecil aja bisa mendakinya, dll” atau pendapat ngawur yang memberikan penilaian sepihak.

Saturday, January 25, 2014

Coming Soon!


Judul: 13th Day [Srikandi Survivor]  
Genre: Novel Petualangan Survival
ISBN: 000-000-000-0
Author: Ganezh
Penerbit: [Masih cari jodoh]
Dimensi: 00 x 00 cm, 300 hlm [plus!]

SINOPSIS:
Kikan bukan traveler, mapala, apa lagi gadis petualang. Ia hanya gadis biasa yang sedang bepergian, tapi musibah datang, merubahnya menjadi seorang survivor. Beruntung dia bertemu Alang, rekan seperjalanan yang kebetulan anggota mapala. Namun, korban mulai berjatuhan satu persatu. Alang pun mengalami cidera. Sementara Kikan harus bertahan dengan segala ketidaktahuannya. Harus memperjuangkan hidupnya di tengah hutan belantara... 

"Diinspirasi dari kisah nyata!"
 

"Musibah survival itu bukan pilihan. Tapi kita tak bisa menolak, ketika takdir berkehendak. Semua bergantung dengan kesiapan kita sendiri!" 

Ludah Kembara Kecil


Ludah Kembara Kecil

Judul: Ludah Kembara Kecil
Genre: Antologi Puisi Perjalanan
Author: Ganezh
Penerbit: Self Publishing
Cetakan: I (2005) dan II (2006)


Ludah tak selalu diartikan sebagai cairan mulut yang menjijikan. Karena di sini ludah adalah ludah kata ketulusan. Kadang berisi nasehat, memohon, ratapan, menangis, memuji, merayu bahkan mencaci-maki.

Kembara Kecil adalah pengelana atau petualang ‘bau kencur’ yang ‘cetek’ pengalamannya. Entah berpetualang di alam bebas, cinta atau kehidupan.

Ludah Kembara Kecil adalah antologi celoteh [atau puisi?] yang lahir dari perjalanan pribadi, perjalanan para sahabat dan perjalananan orang-orang di sekitar.

Jejak Sang Beruang Gunung


 Genre     : Biografi Tokoh Petualang
 ISBN      : 979-763-190-7Author: Ganezh
 Penerbit: Andi Offset - Jogjakarta
 Dimensi : 12 x 19cm, 298 hlm
 Cetakan : I (2006), Cetakan II (2007)


Gua akan terus berjalan dan lo masih tertarik, 
lo pasti akan senang mendengar cerita-cerita gua.  
Karena gua sering cerita,  orang-orang akan merasa akrab dan tiba saatnya gua mati, gantian orang-orang yang akan cerita tentang gua!
(Norman Edwin)

SINOPSIS:
Siang itu, 20 Maret 1992, langit tampak mendung serta angin beku berhembus. Di hamparan salju putih Aconcagua, di ketinggian 6.700 mdpl. Tampak sosok tubuh tinggi besar berambut gondrong, sedang berjuang melintasi tanjakan kemiringan 40 derajat. Tak lain itu sosok Norman Edwin, sang Beruang Gunung Indonesia yang berambisi mendaki Puncak Tujuh Benua. Sekali lagi, kapas esnya menghujami salju beku. Lalu merayap, dan bertumpu di ujung kapak es yang membenami salju. Sementara kebekuan dan keletihan terus mendera. Sengatan nyeri frostbite di ruas jari tengah beberapa hari lalu terus menyiksa. Namun tekadnya sudah bulat. Ingin mengibarkan Merah Putih dan panji Mapala UI di puncak tertinggi Amerika Selatan itu. "Ya, puncak Aconcagua tinggal 200 meter lagi!" Semangatnya dalam hati.

Thursday, January 23, 2014

RINDU PENDAKIAN

Aku rindu beban di pundak
Memar bahu dicengkeram ransel
Aku rindu deru nafas
Di saat langkah dijerat medan
Aku rindu mandi peluh
Di saat raga didera alam
Aku rindu gigil menari
Di saat angin beku menggigit kulit
Aku rindu gelisah tanya
Ketika gundah menjelang puncak
Aku rindu tawa bersama
Ketika bersama memangkas aral
Aku rindu jabat erat
Ketika bersama mencium puncak
[Ganezh/ LKK/ September 1998]

SANG KEMBARA

Nyatanya...
Kembaraanku belum selesai
Menala harapan tujuan
Mentariku masih tertawa
Terik menikam jiwa
Hujan badai pun masih bahana
Menjilati nurani
Langkah lunglai tertatih
Tetap pasti meski sejengkal
Esok adalah mimpi
Kubenahi lagi asa yang terserak
Kurajut lagi meski perca
Meski nyata kembaraanku memang belum selesai...
[Ganezh/LKK/2005]